Showing posts with label Mengenal Bid'ah. Show all posts
Showing posts with label Mengenal Bid'ah. Show all posts

Friday, October 2, 2015

Shodaqollahul ‘Adzim Setelah Membaca Al Qur’an



Al Ustadz Abu Hamzah Yusuf Al Atsari 
 
Dasar agama Islam ialah hanya beramal dengan Kitabullah dan Sunnah rasulNya. Keduanya adalah sebagai marja’ -rujukan- setiap perselisihan yang ada di tengah-tengah kaum muslimin. Siapa yang tidak mengembalikan kepada keduanya maka dia bukan seorang mukmin. Allah berfirman (yang artinya), "Maka demi Rabmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya." (QS An Nisa : 65).
 
Telah mafhum bersama bahwa Allah menciptakan manusia bukan untuk suatu urusan yang sia-sia, tetapi untuk satu tujuan agung yang kemaslahatannya kembali kepada manusia yaitu agar beribadah kepadaNya. Kemudian tidak hanya itu saja, tetapi Allah juga mengutus rasulNya untuk menerangkan kepada manusia jalan yang lurus dan memberikan hidayah -dengan izin Allah- kepada shirothil azizil hamid. Allah berfirman (yang artinya), "Dan Kami tidak menurunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman." (QS An Nahl : 64).
 
Sungguh, betapa besar rahmat Allah kepada kita, dengan diutusnya Rasulullah, Allah telah menyempurnakan agama ini. Allah telah berfirman (yang artinya), "Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu ni’matKu dan telah Kuridhoi islam itu jadi agama bagimu" (QS Al Maidah : 3).
 
Tak ada satu syariatpun yang Allah syariatkan kepada kita melainkan telah disampaikan oleh rasulNya. Aisyah berkata kepada Masyruq, "Siapa yang mengatakan kepadamu bahwa Muhammad itu telah menyembunyikan sesuatu yang Allah telah turunkan padanya, maka sungguh ia talah berdusta!" (HR. Bukhori Muslim).
 
Berkata Al Imam As Syatibi, "Tidaklah Nabi meninggal kecuali beliau telah menyampaikan seluruh apa yang dibutuhkan dari urusan dien dan dunia"
 
Berkata Ibnu Majisyun, "Aku telah mendengar Malik berkata, "Barangsiapa yang membuat bid’ah (perkara baru dalam Islam), kemudian menganggapnya baik, maka sungguh dia telah mengira bahwa Muhammad telah mengkhianati risalah, karena Allah telah berfirman, "Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu" (QS Al Maidah : 3).
 
Kaum muslimin -rahimakumullah-, sahabat Ibnu Mas’ud telah berkata, "Ikutilah, dan jangan kalian membuat perkara baru!". Suatu peringatan tegas dimana kita tidak perlu untuk menambah-nambah sesuatu yang baru atau bahkan mengurangi sesuatu dalam hal agama. Banyak ide atau atau anggapan-anggapan baik dalam agama yang tidak ada contohnya bukanlah perbuatan terpuji yang akan mendatangkan pahala, tetapi justru yang demikian itu berarti menganggap kurang atas syariat yang telah dibawa oleh Rasulullah, dan bahkan yang demikian itu dianggap telah membuat syariat baru. Seperti perkataan Iman Syafi’i, "Siapa yang membuat anggapan-anggapan baik dalam agama sungguh ia telah membuat syariat baru."
 
Ucapan "shodaqollahul adhim" setelah membaca Al Quran atau satu ayat darinya bukanlah hal yang asing di kalangan kita kaum muslimin -sangat disayangkan-. Dari anak kecil sampai orang tua, pria atau wanita sudah biasa mengucapkan itu. Tak ketinggalan pula -sayangnya- para qori Al Quran dan para khotib di mimbar-mimbar juga mengucapkannya bila selesai membaca satu atau dua ayat AlQuran. Ada apa memangnya dengan kalimat itu ?
 
Kaum muslimin -rahimakumullah-, mengucapkan "shodaqollahul adhim" setelah selasai membaca Al Quran baik satu ayat atau lebih adalah bid’ah, perhatikanlah keterangan- keterangan berikut ini.
 
Pertama: Dalam shahih Bukhori no. 4582 dan shahih Muslim no. 800, dari hadits Abdullah bin Mas’ud berkata, "Berkata Nabi kepadaku, "Bacakanlah padaku." Aku berkata, "Wahai Rasulullah, apakah aku bacakan kepadamu sedangkan kepadamu telah diturunkan?" beliau menjawab, "ya". Maka aku membaca surat An Nisa hingga ayat "Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu)." (QS An Nisa : 41) beliau berkata, "cukup". Lalu aku (Ibnu Masud) menengok kepadanya ternyata kedua mata beliau berkaca-kaca."
 
Sahabat Ibnu Mas’ud dalam hadits ini tidak menyatakan "shodaqollahul adhim" setelah membaca surat An Nisa tadi. Dan tidak pula Nabi memerintahkannya untuk menyatakan "shodaqollahul adhim", beliau hanya mengatakan kepada Ibnu Mas’ud "cukup".
 
Kedua: Diriwayatkan oleh Bukhori dalam shahihnya no. 6 dan Muslim no. 2308 dari sahabat Ibnu Abbas beliau berkata, "Adalah Rasulullah orang yang paling giat dan beliau lebih giat lagi di bulan ramadhan, sampai saat Jibril menemuinya -Jibril selalu menemuinya tiap malam di Bulan Ramadhan- bertadarus Al Quran bersamanya".
 
Tidak dinukil satu kata pun bahwa Jibril atau Nabi Muhammad ketika selesai qiroatul Quran mengucapkan "shodaqollahul adhim".
 
Ketiga: Diriwayatkan oleh Bukhori dalam shahihnya no. 3809 dan Muslim no. 799 dari hadits Anas bin Malik -radhiyallahu anhuma-, "Nabi berkata kepada Ubay, "Sesungguhnya Allah menyuruhku untuk membacakan kepadamu "lam yakunil ladzina kafaru min ahlil kitab" ("Orang-orang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya)") (QS Al Bayyinah : 1). Ubay berkata , "menyebutku?" Nabi menjawab, "ya", maka Ubay pun menangis".
 
Nabi tidak mengucapkan "shodaqollahul adhim" setelah membaca ayat itu.
 
Keempat: Diriwayatkan oleh Bukhori dalam shahihnya no. 4474 dari hadits Raafi’ bin Al Ma’la -radhiyallahu anhuma- bahwa Nabi bersabda, "Maukah engkau kuajari surat yang paling agung dalam Al Quran sebelum aku pergi ke masjid?" Kemudian beliau (Nabi) pergi ke masjid, lalu aku mengingatkannya dan beliau berkata, "Alhamdulillah, ia (surat yang agung itu) adalah As Sab’ul Matsaani dan Al Quranul Adhim yang telah diberikan kepadaku."
 
Beliau tidak mengatakan "shodaqollahul adhim".
 
Kelima: Terdapat dalam Sunan Abi Daud no. 1400 dan Sunan At Tirmidzi no. 2893 dari hadits Abi Hurairah dari Nabi, beliau bersabda, "Ada satu surat dari Al Quran banyaknya 30 ayat akan memberikan syafaat bagi pemiliknya -yang membacanya/ mengahafalnya- hingga ia akan diampuni, "tabaarokalladzii biyadihil mulk" ("Maha Suci Allah yang ditanganNyalah segala kerajaan") (QS Al Mulk : 1).
 
Nabi tidak mengucapkan "shodaqollahul adhim" setelah membacanya.
 
Keenam: Dalam Shahih Bukhori no. 4952 dan Muslim no. 494 dari hadits Baro’ bin ‘Ajib berkata, "Aku mendengar Rasulullah membaca di waktu Isya dengan "attiini waz zaituun", aku tidak pernah mendengar seorangpun yang lebih indah suaranya darinya".
 
Dan beliau tidak mengatakan setelahnya "shodaqollahul adhim".
 
Ketujuh: Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya no. 873 dari hadits Ibnat Haritsah bin An Nu’man berkata, "Aku tidak mengetahui/hafal "qaaf wal qur’aanil majiid" kecuali dari lisan rasulullah, beliau berkhutbah dengannya pada setiap Jumat".
 
Tidak dinukil beliau mengucapkan setelahnya "shodaqollahul adhim" dan tidak dinukil pula ia (Ibnat Haritsah) saat membaca surat "qaaf" mengucapkan "shodaqollahul adhim".
 
Jika kita mau menghitung surat dan ayat-ayat yang dibaca oleh Rasulullah dan para sahabatnya serta para tabiin dari generasi terbaik umat ini, dan nukilan bahwa tak ada satu orangpun dari mereka yang mengucapkan "shodaqollahul adhim" setelah membacanya maka akan sangat banyak dan panjang. Namun cukuplah apa yang kami nukilkan dari mereka yang menunjukkan bahwa mengucapkan "shodaqollahul adhim" setelah membaca Al Quran atau satu ayat darinya adalah bid’ah -perkara yang baru- yang tidak pernah ada dan di dahului oleh generasi pertama.
 
Kaum muslimin -rahimakumullah-, satu hal lagi yang perlu dan penting untuk diperhatikan bahwa meskipun ucapan "shodaqollahul adhim" setelah qiroatul Quran adalah bid’ah, namun kita wajib meyakini dalam hati perihal maknanya bahwa Allah maha benar dengan seluruh firmannya, Allah berfirman, "Dan siapa lagi yang lebih baik perkataanya daripada Allah", dan Allah berfirman, "Dan siapa lagi yang lebih baik perkataanya dari pada Allah". Barangsiapa yang mendustakanya -firman Allah- maka ia kafir atau munafiq.
 
Semoga Allah senantiasa mengokohkan kita diatas Al Kitab dan Sunnah dan Istiqomah diatasnya. Wal ilmu indallah.
 

Sumber: Buletin Al Wala’ Wal Bara’ Bandung

Thursday, July 2, 2015

Setiap Bid’ah Itu Sesat !



Redaksi Al Wala’ Wal Bara’
Sesungguhnya, salah satu ujian terbesar ummat Islam dewasa ini adalah permasalahan "Bid’ah" (yaitu ungkapan dari "suatu jalan/cara dalam agama yang diada-adakan (tanpa dalil) yang menyerupai syari’ah yang bertujuan dengan melakukannya adalah berlebih-lebihan dalam beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala", lihat Mukhtashar Al-I’tisham hal.7, -pent.), bahkan hal ini telah menyebar ke berbagai negara Islam. Jarang sekali kita jumpai suatu tempat yang di situ terlepas dari masalah bid’ah dan sangat sedikit manusia yang selamat darinya. Perkara bid’ah merupakan masalah yang besar, sangat berbahaya, dan termasuk "pos"nya kekufuran. Pelaku bid’ah telah mencabut hukum Allah, karena itu dia tidak mau berusaha untuk taubat (tidak diberi pertolongan untuk bertaubat).
Berkata ‘Abdullah bin ‘Abbas rodhiyallahu ‘anhu: "Sesungguhnya perkara-perkara yang paling dibenci oleh Allah adalah bid’ah-bid’ah." (Dikeluarkan oleh Al-Baihaqiy dalam Al-Kubra 4/316)

Berkata Sufyan Ats-Tsauriy: "Bid’ah itu lebih disukai oleh Iblis daripada kemaksiatan, pelaku maksiat masih ingin bertaubat dari kemaksiatannya (masih diharapkan untuk bertaubat), sedangkan pelaku bid’ah tidak ada keinginan untuk bertaubat dari kebid’ahannya (sulit diharapkan untuk bertaubat)." (Dikeluarkan oleh Al-Laalikaa`iy 1/133 dan Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah 7/26 dan Al-Baghawiy dalam Syarhussunnah 1/216)

Pelaku bid’ah -apalagi ahlul bid’ah- sulit untuk bertaubat dikarenakan ia mengira perbuatannya baik, dan dengan perbuatan bid’ahnya itu dia bermaksud untuk mendekatkan diri kepada Allah Yang Maha Mulia dan Maha Tinggi. Oleh karena itu pelaku bid’ah tidak pernah berfikir untuk bertaubat kepada Allah dari perbuatannya bahkan dengan kebid’ahannya tersebut ia mengharapkan pahala. Sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala (yang artinya): "Maka apakah orang yang dijadikan (syaithan) menganggap baik pekerjaannya yang buruk lalu dia meyakini pekerjaannya itu baik, (sama dengan orang yang tidak ditipu oleh syaithan)?" (Faathir:8)

Berbeda dengan orang yang berbuat maksiat, ia merasa sedikit amalannya dan jelek perbuatannya, sehingga jika datang nasehat padanya segera ia akan bertaubat -bi`idznillaah-. Akan tetapi keduanya, pelaku bid’ah dan maksiat, apabila mau bertaubat, sesungguhnya Allah Maha Mengampuni dosa dan Menerima Taubat hamba-Nya dan memaafkan kejelekan-kejelekannya. Kita minta kepada Allah subhanahu wa ta’ala keselamatan, ‘afiyah, taufiq dan hidayah. Amin!


Dalil-dalil Bahwasanya Semua Bid’ah Adalah Sayyi`ah (Tercela), Tidak Ada Hasan (Kebaikan) Sedikitpun Padanya

Dalil ke-1: Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (yang artinya): "Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kalian agama kalian dan telah Kucukupkan kepada kalian nikmat-Ku dan telah Kuridhai Islam itu menjadi agama bagi kalian." (Al-Maa`idah:3).

Berkata Al-Imam Malik bin Anas: "Barangsiapa mengada-adakan di dalam Islam suatu kebid’ahan yang dia melihatnya sebagai suatu kebaikan maka sungguh ia telah menuduh bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhianati risalah, karena sesungguhnya Allah Ta’ala telah berfirman: "Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kalian agama kalian dan telah Kucukupkan kepada kalian nikmat-Ku dan telah Kuridhai Islam itu menjadi agama bagi kalian." Maka apa-apa yang tidak menjadi agama pada hari itu, maka tidak menjadi agama pula pada hari ini." (Al-I’tisham, Al-Imam Asy-Syathibiy 1/64)

Berkata Asy-Syaukaniy: "Maka, sungguh apabila Allah subhanahu wa ta’ala telah menyempurnakan agama-Nya sebelum mematikan Nabi-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, bagaimana dengan pendapat orang yang mengada-adakan setelah Allah subhanahu wa ta’ala menyempurnakan agama-Nya?! Seandainya sesuatu yang mereka ada-adakan termasuk dalam urusan agama menurut keyakinan mereka, berarti belum sempurna agama ini kecuali dengan pendapat mereka, ini berarti mereka telah menolak Al-Qur`an. Dan jika apa yang mereka ada-adakan bukan termasuk dari urusan agama, maka apa faedahnya menyibukkan diri dengan sesuatu yang bukan dari urusan agama??

Ini adalah hujjah yang terang dan dalil yang agung, tidak mungkin orang yang mengandalkan akalnya dapat mempertahankan hujjahnya selama-lamanya. Maka jadilah ayat yang mulia ini (Al-Maa`idah:3) sebagai hujjah yang pertama kali memukul wajah ahlur ra`yi (orang yang mengandalkan dan mendahulukan akalnya daripada wahyu) dan menusuk hidung-hidung mereka dan mematahkan hujjah mereka." (Al-Qaulul Mufiid fii Adillatil Ijtihaad wat Taqliid hal.38)

Dalil ke-2: Dari Jabir bin ‘Abdillah rodhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam suatu khuthbahnya (yang artinya): "Ammaa ba’d, Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitaabullaah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sejelek-jelek perkara adalah perkara yang diada-adakan dan setiap bid’ah adalah sesat." (HR. Muslim no.867)

Dalil ke-3: Dari ‘Irbadh bin Sariyah rodhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi nasehat kepada kami dengan nasehat yang mendalam, yang karenanya berlinanganlah air mata (karena terharu) dan membuat hati kami bergetar. Seseorang dari kami berkata: Ya Rasulullah, seakan-akan ini adalah nasehat perpisahan, maka berilah kami wasiat. Maka beliau bersabda (yang artinya): "Aku wasiatkan kepada kalian untuk tetap bertaqwa kepada Allah, dan senantiasa mendengar dan taat walaupun yang memimpin kalian adalah seorang budak Habasyi (Etiopia). Barangsiapa hidup (berumur panjang) di antara kalian niscaya dia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib atas kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah Khulafa`ur Rasyidin yang mendapat petunjuk (yang datang sesudahku), gigitlah sunnah itu dengan gigi geraham kalian. Dan jauhilah perkara-perkara baru yang diada-adakan (dalam urusan agama, pent.). Karena sesungguhnya setiap perkara yang baru itu bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat." (HR. Ahmad 4/126, Abu Dawud no.4607, At-Tirmidziy no.2676 dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albaniy dalam Shahiihul Jaami’ no.2546)

Berkata Ibnu Rajab: "Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: "(Kullu bid’atin dholaalah = semua bid’ah adalah sesat)" merupakan kata (qa’idah) yang menyeluruh dan tidak ada pengecualian sedikitpun (dengan mengatakan, "Ada Bid’ah Hasanah", pent.) dan merupakan dasar yang agung dari dasar-dasar agama." (Jaami’ Bayaanil ‘Ilmi wa Fadhlih hal.549)

Berkata Ibnu Hajar: "Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: "(Kullu bid’atin dholaalah = semua bid’ah adalah sesat)" merupakan qa’idah syar’iyyah yang menyeluruh baik lafazh maupun maknanya. Adapun lafazhnya, seolah-olah mengatakan: "Ini hukumnya bid’ah dan semua bid’ah adalah sesat."

Maka, bid’ah tidak termasuk bagian dari syari’at, karena semua syari’at adalah petunjuk (bukan kesesatan, pent.), apabila telah tetap bahwa hukum yang disebut itu adalah bid’ah, maka berlakulah "semua bid’ah adalah sesat" baik secara lafazh maupun maknanya, dan inilah yang dimaksud. (Fathul Baary 13/254)

Berkata Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin: "Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: " Kullu bid’atin= semua bid’ah" maknanya menyeluruh, umum, mencakup dan didukung dengan kata yang kuat, mencakup dan umum pula yaitu lafazh " Kullu=semua". Maka segala sesuatu yang didakwahkan sebagai bid’ah hasanah, jawabannya adalah dengan kata di atas, sehingga tidak ada pintu masuk bagi ahlul bid’ah untuk menjadikan bid’ah mereka sebagai bid’ah hasanah. Dan di tangan kami ada pedang yang sangat tajam dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yakni (Kullu bid’atin dholaalah). Pedang yang sangat tajam ini dibuat di atas nubuwwah dan risalah, dan tidak dibuat di atas sesuatu yang goyah. Dan bentuk (kalimat yang digunakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) ini sangat jelas, maka tidak mungkin seseorang menandingi pedang yang tajam ini dengan mengatakan adanya bid’ah hasanah sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (Kullu bid’atin dholaalah =semua bid’ah adalah sesat). (Al-Ibdaa’ fii Kamaalisy Syar’i wa Khathiiri Al-Ibtida’ oleh Ibnu ‘Utsaimin hal.13)

Beliau juga berkata: "Sesungguhnya setiap bid’ah adalah sesat dan bahwasanya tidak ada pada bid’ah-bid’ah tersebut sesuatu yang dianggap baik sebagaimana yang disangka oleh sebagian ulama. Bahkan seluruh bid’ah adalah sesat, maka barangsiapa yang menyangka bahwasanya ada suatu bid’ah dari bid’ah-bid’ah yang ada sebagai suatu kebaikan, maka hal itu (bid’ah yang dia sangka sebagai kebaikan) tidak lepas dari salah satu dari dua perkara, yang pertama bahwasanya hal itu bukan bid’ah dan ia menyangkanya sebagai bid’ah atau kemungkinan yang kedua bahwasanya hal itu bukanlah kebaikan dan ia menyangkanya kebaikan. Adapun adanya bid’ah dan kebaikan (berbarengan/menyatu pada suatu keadaan yaitu menganggap adanya bid’ah hasanah) maka ini adalah perkara yang mustahil, karena bertentangan dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: "(Kullu bid’atin dholaalah = semua bid’ah adalah sesat)". (At-Ta’liiqaat ‘alal Arba’iin An-Nawawiyyah hal.73)

Dalil ke-4: Dari ‘Aisyah berkata: Telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang artinya): "Barangsiapa yang mengada-adakan (sesuatu yang baru) dalam urusan (agama) kami ini, apa-apa yang tidak ada darinya (tidak kami perintahkan, pent.) maka ia tertolak." (HR. Al-Bukhariy no.2697 dan Muslim no.1718)

Berkata Asy-Syaukaniy: "Hadits ini termasuk qa’idah-qa’idah agama, karena termuat di dalamnya banyak hukum yang tidak bisa dibatasi. Betapa jelas sumber dalil untuk membatalkan ahli fiqh yang berpendapat bahwa bid’ah itu terbagi menjadi beberapa bagian, dan penolakan mereka secara khusus tentang sebagian di dalamnya, sementara tidak ada pengkhususan (yang dapat diterima) baik dari dalil ‘aqli (logika) maupun naqli (dari Al-Qur`an & As-Sunnah, pent.). (Nailul Authaar 2/69)

Dalil ke-5: Dari ‘Abdullah bin ‘Ukaim, bahwasanya ‘Umar rodhiyallahu ‘anhu berkata: "Sesungguhnya sebenar-benar perkataan adalah perkataan Allah dan sesungguhnya sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan seburuk-buruk perkara adalah yang diada-adakan, ketahuilah sesungguhnya setiap yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat dan setiap kesesatan ada di neraka." (Dikeluarkan oleh Ibnu Wadhdhah dalam Al-Bida’ hal.13 dan Al-Laalikaa`iy hadits ke 100 (1/84))

Dalil ke-6:
Berkata ‘Abdullah bin Mas’ud rodhiyallahu ‘anhu: "Ittiba’lah (mengikutlah) dan janganlah kalian berbuat bid’ah, maka sungguh telah cukup bagi kalian dan semua bid’ah adalah sesat." (Dikeluarkan oleh Ibnu Baththah dalam Al-Ibanah hadits no.175 (1/327, 328) dan Al-Laalikaa`iy hadits no.104 (1/86))

Dalil ke-7: Berkata ‘Abdullah bin ‘Umar rodhiyallahu ‘anhu: "Semua bid’ah adalah sesat, walaupun manusia memandangnya sebagai kebaikan." (Dikeluarkan oleh Ibnu Baththah dalam Al-Ibanah hadits no.205 (1/339) dan Al-Laalikaa`iy hadits no.126 (1/92))


Penutup dan Kesimpulan

Setelah disebutkan dalil-dalil bahwa bid’ah itu seluruhnya tercela dan jahat, nampaklah dengan jelas bahwa pendapat adanya bid’ah hasanah adalah pendapat yang bathil, menyelisihi nash-nash dan atsar (riwayat-riwayat) yang ada.

Pada penutup ini akan dipaparkan enam point dari sepuluh point (yang ada dalam kitab Al-Luma’ fir Raddi ‘alal Muhsinil Bida’) yang hanya dengan mengamati salah satu dari keseluruhannya saja sudah cukup untuk menjelaskan kebathilan pendapat yang mengatakan adanya bid’ah hasanah -Insya Allah-. Maka bagaimana jika seluruhnya terkumpul, apalagi kalau disertai dalil-dalil yang telah disebutkan terdahulu. Oleh karenanya tidak akan tersisa satu syubhatpun bagi ahlul bid’ah, tidak juga satu ucapanpun. Maka perhatikanlah point-point tersebut dengan berurutan, dari pertama sampai yang berikutnya.

Pertama: Bahwa dalil-dalil yang mencela bid’ah sifatnya adalah umum, tidak terkhususkan, bersamaan dengan itu, jumlahnya banyak dan tidak ada perkecualian sama sekali. Tidak ada dari dalil-dalil tersebut yang menentukan bahwa di antara bid’ah-bid’ah itu ada yang sifatnya sebagai Al-Huda (petunjuk) dan tidak pernah datang riwayat yang mengatakan: "Bahwa semua bid’ah sesat kecuali itu dan itu", serta tidak ada sedikitpun nash-nash yang bermakna seperti itu. Maka jika di sana ada bid’ah yang menurut pandangan syari’ah adalah "hasanah", niscaya akan disebutkan oleh ayat atau hadits, akan tetapi itu tidak pernah didapati. Hal ini menunjukkan bahwasanya dalil-dalil yang banyak jumlahnya tersebut harus dipahami menurut zhahir dari nash-nash itu yang sifatnya umum dan menyeluruh untuk semua bid’ah yang tidak seorangpun bisa terlepas (menghindar) dari ketentuan ini. (Lihat Al-I’tisham 1/187)

Kedua: Bahwasanya telah "terkonsep" dalam qa’idah Ushul ‘ilmiyyah (Ushul Fiqh, pent.), bahwa setiap qa’idah yang menyeluruh atau dalil-dalil syar’i yang menyeluruh bila terulang dalam berbagai keadaan, di segala waktu dan suasananya yang berbeda, kemudian bersamaan itu tidak diiringi dengan sesuatu yang mengkhususkan atau mengikat (mengecualikan, pent.), maka ini adalah petunjuk atas tepatnya, bahwa dalil-dalil yang ada berlaku menurut ketentuan zhahir lafazhnya yang mutlak dan umum. Dari sisi inilah datangnya hadits-hadits yang mencela dan mengingatkan dari bid’ah (yaitu mutlak, umum dan menyeluruh, pent.).

Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengulang-ulang dari mimbarnya di hadapan khalayak ramai di antara muslimin di berbagai waktu dan suasana yang berbeda-beda bahwasanya: "Seluruh bid’ah itu sesat", tidak pernah datang dalam ayat atau hadits yang mengecualikan atau mengkhususkan, serta tidak juga datang dalil yang bisa dipahami menyelisihi zhahir nash-nash yang ada yang sifatnya umum dan menyeluruh. Maka ini adalah bukti yang jelas bahwa nash tersebut berlaku menurut keumumannya tanpa terkecuali.

Ketiga: Salafush Shalih dari kalangan shahabat, tabi’in dan ulama-ulama sesudahnya telah sepakat (ijma’) atas pencelaan terhadap bid’ah, menghinakannya dan menjauhkannya serta menjauhi siapa saja yang teracuni dengan bid’ah tersebut, juga tidak terjadi pada mereka itu sikap berpangku tangan terhadap perkara ini, tidak pula ada pengecualian dari mereka tentang bahaya dan jeleknya bid’ah. Maka sikap ini -sepanjang pengamatan- merupakan ijma’ ulama yang telah baku yang menunjukkan bahwa bid’ah itu seluruhnya tercela, tidak ada kebaikan padanya sedikitpun. (Al-I’tisham 1/188)

Keempat: Bahwasanya bid’ah hanya bergantung pada bid’ah itu sendiri (sama sekali tidak tergantung/bersumber pada syari’ah, pent.). Karena bid’ah merupakan sikap menyaingi dan membuang syari’at, maka segala sesuatu yang keadaannya seperti itu mustahil untuk dipilah-pilah menjadi baik dan jelek (karena semua bid’ah adalah jelek, pent.), atau tidak mungkin di sana ada sebagian yang terpuji dan sebagiannya tidak terpuji, karena tidak dibenarkan baik secara dalil ‘aqli maupun naqli untuk menganggap baik suatu perkara yang menyelisihi syari’ah.

Kelima: Bahwasanya pernyataan bid’ah hasanah akan membuka pintu kebid’ahan untuk orang masuk ke dalamnya, kemudian tidak mungkin membantah apapun bid’ahnya, karena setiap pelaku akan mengaku bahwa amalan bid’ahnya "hasanah". Maka orang-orang Rafidhah akan mengatakan tentang bid’ahnya dengan "bid’ah hasanah", demikian pula (pengikut) Mu’tazilah, Jahmiyyah, Khawarij dan selain mereka (dari kalangan ahlul bid’ah). Sebaliknya wajib atas kita untuk membantah mereka dengan hadits (Kullu bid’atin dholaalah = semua bid’ah adalah sesat).

Keenam: Apa patokan dalam menyatakan baiknya bid’ah? Dan siapa yang ucapan atau pendapatnya dipakai rujukan dalam hal ini?

Bila dikatakan: "Patokannya adalah harus sesuai dengan syari’ah". Kita katakan: "Segala yang sesuai dengan syari’ah sama sekali bukan bid’ah". Kalau dikatakan: "Rujukannya adalah akal". Kita jawab: "Akal itu berbeda-beda dan berlainan, maka akal yang mana yang digunakan sebagai rujukan itu? Dan mana yang akan diterima hukumnya? Karena semua pelaku bid’ah akan menyangka bahwa amalan bid’ahnya hasanah (baik) menurut akal?!!!

Tulisan ini sekaligus sebagai jawaban terhadap pertanyaan yang berkaitan dengan permasalahan "bid’ah hasanah". Wallaahu a’lamu bish Shawaab.

Diringkas dari kitab Al-Luma’ fir Raddi ‘alal Muhsinil Bida’
karya ‘Abdul Qayyum bin Muhammad bin Nashir As-Sahaibaniy,
dengan sedikit perubahan dan tambahan.
 Sumber: Buletin Al Wala’ Wal Bara’
Judul Asli: "Setiap Bid’ah Sesat dan Setiap Kesesatan di Neraka !" 
Edisi ke-13 Tahun ke-2 / 20 Februari 2004 M / 30 Dzul Hijjah 1424 H

Sunday, June 21, 2015

Mewaspadai Bahaya Bid’ah





Al Ustadz Abu Hamzah Yusuf Al Atsary 
Bertolak dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang artinya), "Setiap kebid’ahan adalah sesat dan setiap kesesatan di neraka." (HR Muslim 6/153, Al Baihaqi dalam Asma wassifat: 137, Nasaa`i 3/188-189, dengan sanad yang shohih), maka setiap perkara yang baru yang diada-adakan dalam agama wajib diketahui guna untuk menjauhinya, selaras dengan ungkapan sebuah syair:
"Aku mengenali kejelekan bukan untuk kejelekan, namun agar berjaga-jaga darinya
siapa yang tak kenal kebaikan dari kejelekan, ia akan terjerumus ke dalamnya."
 
Lebih jauhnya, sahabat Hudzaifah ibnul Yaman berkata, "Orang-orang bertanya kepada Rosulullah perihal kebaikan, sedang aku bertanya kepadanya tentang kejelekan, khawatir bila sampai menimpaku." (HR Bukhori 6/610-616, 13/35, Muslim 12/236).
Dengan demikian tidak cukup bagi seseorang dalam beribadah hanya mengetahui sunnah saja, akan tetapi juga harus mengenali lawannya yakni bid’ah, seperti dalam hal keimanan tidak cukup mengerti tauhid saja tanpa mengetahui syirik. Allah subhanahu wa ta’ala telah mengisyaratkan hal ini dalam firmanNya (yang artinya), "Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada thoghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus." (Al Baqoroh: 256).
Begitu pula dengan Rosulullah, beliau menegaskan (yang artinya), "Siapa yang mengatakan Laa ilaha illallah lalu mengkufuri apa yang diibadahi selain Allah, maka diharamkan harta dan darahnya, sedang hisabnya atas Allah." (HR Muslim 1/212).
Allah dan RosulNya tidak hanya mencukupkan tauhid tapi ditambahkan padanya mengkufuri selainNya (yang diibadahi). Jelaslah ini semua menuntut untuk mengetahui syirik, kufur, dan bid’ah, bila tidak, tentulah akan terjerumus ke dalamnya tanpa disadari. Allah berfirman (yang artinya), "Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain)." (QS Yusuf: 106).
Tak dapat disangkal lagi bila fenomena yang ada menunjukkan tak sedikit dari kaum muslimin yang begitu hobi melakukan praktek bid’ah dan khurafat, yang lebih mengenaskan bid’ah dan khurafat itu dikemas sedemikian rupa agar tampak seolah-olah suatu ibadah yang disyariatkan, lebih tampil menarik dan mampu memikat perhatian banyak orang. Lebih dari itu ternyata bid’ah dan khurafat kini gemar dikampanyekan orang-orang yang bergamis dan berjenggot, tetapi mana gamis dan mana jenggot?! -yang jelas keduanya tengah didzalimi-. Ironinya model-model yang seperti inilah yang dijadikan tokoh-tokoh penting bangsa ini, naik daun dan melambung namanya di hadapan rakyat yang awam akan ilmu agamanya. Wallahul musta’an.
Sementara apa yang ada di dalam Kitabullah berisikan perintah untuk ittiba’ (mengikuti tuntunan Rosulullah). Allah berfirman (yang artinya), "Katakanlah: ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS Ali Imran: 31).
Allah juga berfirman (yang artinya), "Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa." (QS Al An’am: 153).
Diriwayatkan dari Abul Hajaj bin Jabr al Maky -seorang imam ahli tafsir dari kalangan tabi’in- tentang firman Allah, "Dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain)", katanya, "Yakni kebid’ahan dan syubhat-syubhat." (HR Ad Darimy 1/68, Al Baihaqi dalam Al Madkhal: 200).
Berkata Al Izz ibnu Abdus Salam, "Beruntunglah bagi siapa yang memimpin sesuatu dari urusan kaum muslimin, lalu merespon dan memberikan andil dalam mematikan bid’ah dan menghidupkan sunnah." (Musajalah ilmiyyah: 10 dari Al Bid’ah wa Atsaruhas Sayyi` fil Ummah: 119).
Imam Al Marudzi berkata: Aku bertanya kepada Abu Abdillah -imam Ahmad-, "Apa pendapatmu tentang seseorang yang menyibukkan diri dengan shoum dan sholat, tapi diam dari membicarakan ahlul bid’ah?" Muka beliau masam seraya berkata, "Jika ia shoum dan sholat dan memisahkan diri dari manusia, bukankah itu hanya untuk kebaikan dirinya saja?" Aku menjawab, "Benar." Beliau berkata lagi, "Namun bila ia berbicara (tentang ahlul bid’ah) tentu hal itu untuk kebaikan dirinya dan selainnya, maka berbicara lebih afdhal." (Thobaqotul Hanabilah: 2/216 dari Al Bid’ah wa Atsaruhas Sayyi`: 120).
Imam Qotadah berkata, "Seseorang bila melakukan kebid’ahan, sepatutnya untuk disebutkan dan diperingatkan." (Syarh Ushulul I’tiqod no: 250).
Mengapa hal ini justru luput dari sorotan organisasi-organisasi dan jama’ah-jama’ah yang berlabelkan Islam? Mengapa luput dari sekumpulan majlis yang katanya berbasis ulama?! Sangat disayangkan, perkara yang besar ini menjadi remeh di mata umat Islam, sampai-sampai ada yang menganggap bid’ah adalah masalah khilafiyah biasa yang setiap orang harus menumbuhkan sikap tenggang rasa di dalamnya, seolah-olah bid’ah adalah sesuatu yang memang ada asalnya dalam syariat Islam. Lelucon macam apa ini!!!

Berikut ini pemaparan tentang bahayanya bid’ah agar diketahui bahwa orang yang terjerumus ke dalamnya tengah melakukan pelanggaran-pelanggaran besar:
Pertama: Kebid’ahan adalah kesesatan, orang yang melakukannya berarti melakukan kesesatan menurut nash Kitab dan Sunnah, yang demikian itu karena apa yang dibawa oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah haq, sedang Allah telah berfirman (yang artinya), "Maka tidak ada sesudah kebenaran itu melainkan kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan (dari kebenaran)?" (QS Yunus: 32). Rosulullah menyatakan (yang artinya), "Setiap kebid’ahan adalah sesat."
Kedua: Kebid’ahan adalah sikap menyimpang dan keluar dari mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dimana Allah berfirman (yang artinya), "Katakanlah: ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS Ali Imran: 31). Maka siapa yang melakukan kebid’ahan, beribadah kepada Allah dengannya, sungguh dia telah keluar dari mengikuti Nabi yang berarti keluar dari apa yang disyariatkan Allah.
Ketiga: Kebid’ahan melenyapkan pembuktian syahadat "Muhammadar Rosulullah" karena yang menjadi konsekuensi dari syahadat tersebut adalah berkomitmen penuh terhadap syariatnya, tidak menambahi atau mengurangi. Adapun kebid’ahan menggugurkan komitmen yang agung ini.
Keempat: Kebid’ahan mengandung celaan terhadap Islam, sebab orang yang melakukan suatu kebid’ahan secara tidak langsung dia menganggap Islam belum sempurna, sementara Allah telah berfirman (yang artinya), "Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu." (QS Al Maidah: 3).
Kelima: Kebid’ahan mengandung celaan terhadap diri Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena bid’ah yang dianggap ibadah secara tidak langsung pelakunya menuduh bahwa Rosul tidak mengetahuinya atau Rosul mengetahuinya tapi menyembunyikannya, keduanya perkara yang sangat berbahaya.

Keenam: Kebid’ahan penyebab perpecahan umat Islam, karena jika pintu bid’ah dibuka lebar-lebar di hadapan umat Islam, tentu masing-masing akan membuat bid’ah, akibatnya apa yang terjadi di tengah-tengah umat sekarang ini dimana tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada padanya. Allah berfirman (yang artinya), "Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka." (QS Ar Rum: 32). Tiap-tiap golongan mengklaim bahwa "kebenaran ada pada kami dan kesesatan ada pada selain kami".
Allah telah berfirman kepada NabiNya (yang artinya), "Sesungguhnya orang-orang yang memecah-belah agamanya dan mereka terpecah menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu terhadap mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah (terserah) kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat. Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya, dan barangsiapa yang membawa perbuatan yang jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan)." (QS Al An’am: 159-160). Jadi jika umat Islam melakukan kebid’ahan-kebid’ahan maka merekapun akan terpecah-belah.
Ketujuh: Kebid’ahan bila merebak di tengah-tengah umat, maka akan melenyapkan sunnah, umat akan menjadi asing terhadap sunnah karenanya, meski didapati orang-orang yang melakukan bid’ah mengira tujuannya baik dan amalannya baik namun tepatlah atas mereka firman Allah (yang artinya), "Katakanlah: Apakah akan kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya." (QS Al Kahfi: 103-104).

Sebab-sebab yang menyebabkan terjadinya kebid’ahan sangatlah banyak yang semuanya kembali pada tiga sebab yang utama:

Pertama: Kebodohan akan sumber-sumber hukum dan wasilah untuk memahaminya, sumber hukum syar’i adalah Kitabullah dan Sunnah Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan yang diikutsertakan ke dalam keduanya dari perkara ijma’ dan qiyas.
Kedua: Mengikuti hawa nafsu dalam mengambil hukum, sehingga hawa nafsu dijadikan landasan utama sedangkan dalil dipaksa untuk mengikuti kemauan.
Ketiga: Berbaik sangka terhadap akal dalam hal penetapan syariat, padahal Allah menjadikan bagi akal batasan-batasan dalam mengetahui sesuatu dan tidak menjadikannya sebagai jalan untuk mengetahui segala sesuatu.

Para pembaca, dakwah kepada tauhid dan sunnah adalah memerintah kepada yang ma’ruf, dan peringatan dari kesyirikan dan kebid’ahan adalah mencegah dari yang mungkar. Dengan jalan inilah umat Muhammad akan menyandang predikat "sebaik-baik umat yang dilahirkan untuk manusia". Allah berfirman (yang artinya), "Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah." (QS Ali Imran: 110).

Kepada para da’i, wajib untuk memperingatkan kaum muslimin dari kebid’ahan dan kesyirikan serta menyeru mereka kepada tauhid dan sunnah, di atas pondasi inilah dakwah dibangun, seperti firman Allah (yang artinya), "Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, merekalah orang-orang yang beruntung." (QS Ali Imran: 104). Wal ilmu indallah.

Sumber bacaan:
- Al Bid’ah wa Atsaruhas Sayyi` fil Ummah.
- Syarh Riyadhush Sholihin.
Sumber: Buletin Al Wala’ Wal Bara’
Edisi ke-29 Tahun ke-2 / 11 Juni 2004 M / 23 Rabi’uts Tsani 1425 H
auto insurance, auto insurance quotes, auto insurance companies, auto insurance florida, auto insurance quotes online, auto insurance america, auto insurance comparison, auto insurance reviews, auto insurance calculator, auto insurance score, auto insurance quotes, auto insurance companies, auto insurance florida, auto insurance quotes online, auto insurance america, auto insurance comparison, auto insurance reviews, auto insurance calculator, auto insurance score, auto insurance ratings

Follow us on Facebook :P

Blogger news