Showing posts with label TAZKIYATUN NUFUS. Show all posts
Showing posts with label TAZKIYATUN NUFUS. Show all posts

Sunday, November 29, 2015

Nilai Sebuah Nikmat (3/3)

Cukup banyak telah kita ketahui tentang nikmat dan rasa syukur dari bagian-bagian sebelumnya, maka untuk menyempurnakan penjelasan hakikat dari sebuah nikmat, pada bagian terakhir ini diturunkan beberapa kisah yang dapat dijadikan ibroh (pelajaran). Bagaimana kisah-kisah mereka itu?

5 Dalam Kisah Mereka Terdapat Ibroh



Berikut ini kami kutipkan beberapa kisah menyedihkan dengan harapan menjadi ibroh bagi mereka yang berakal akan pentingnya syukur kepada Alloh.



Adalah Mu’tamad bin ‘Abbad, seorang raja Andalus, sebagaimana halnya ayah dan kakeknya. Tetapi dia meninggal dunia sebagai tahanan di penjara pada tahun (488 H). Ibnu Khollikan telah menceritakan biografinya secara panjang dalam Wafayatul A’yan (5/21-39) mulai dari kisah perampasan kerajaannya, penjeblosan ke penjara, penyiksaan dan sebagainya. Yang membaca kisah ini, niscaya akan meneteskan air mata.




Kisah Mu’tamad bin ‘Abbad ini begitu panjang sehingga Ibnu Khollikan meminta maaf kepada pembaca seraya mengatakan, "Kisahnya sangat aneh, belum pernah dijumpai kejadian seperti dalam kisah ini". Di antara yang beliau kisahkan sebagai berikut,


". . . Pada suatu hari raya, putri-putrinya mengunjunginya
di penjara, sebelumnya mereka mengemis kepada penduduk negeri Aghmat, sebuah kota yang terletak di Maghribi, sehingga seorang putrinya ada yang mengemis kepada mantan prajurit ayahnya ketika dahulu masih berkuasa. Dia melihat putri-putri rajanya dalam keadaan yang sangat memprihatinkan dan menyedihkan sehinggga membuat hatinya terenyuh lalu dia menyenandungkan
sebuah syair:

Dahulu engkau (raja), amat bahagia dan suka-cita dihari raya
Sekarang hari raya di kota Aghmat berubah kesedihan Engkau melihat putri-putrimu dalam kelaparan dan kesedihan
Mereka mengemis kepada manusia sebab sedikit harta pun tak punya
Raja yang menggantimu sekarang dalam kegembiraan
Padahal kerajaan hanyalah impian yang melalaikan.


Contoh lainnya, Muhammad bin Abdul Qodir AI-Jily (wafat tahun 600 H) dikatakan oleh Ibnu Najjar, Muhammad bin Abdul Qodir AI-Jily termasuk orang yang kaya raya, lancar rizkinya. Tetapi dia membalas nikmat Alloh dengan mengingkari takdir, maka dia menjadi fakir, berpemahaman keliru dan tidak memiliki ilmu". 
2


Contoh lainnya, Sulthon Barquq (wafat tahun 824 H). Para pakar sejarah telah bersepakat dalam menceritakan kisah kematiannya. AI Miqrizi seorang pakar sejarah berkata tentang biografinya,




"Pada kisahnya terdapat ibroh berharga. Yaitu tatkala dia
dimandikan, tak ada handuk untuk mengeringkan badannya sehingga dia dihanduki dengan kain milik orang yang memandikannya. Tak ada sarung untuk menutupi auratnya sehingga diambilkan sarung yang terbuat dari kain wol di kepala salah seorang budaknya. Demikian pula, tak dijumpai gayung untuk mengguyur badannya, padahal harta peninggalannya sangat melimpah ruah". 
3

Sejarah juga telah mencatat dan tak dapat melupakan kisah Yahya bin
Kholid AI-Barmaky (wafat tahun 190 H). la pernah mengatakan tatkala
ditahan di penjara kota "Roqoh" sebagaimana diceritakan
AI-Ash’mai, Saya mendengar Yahya berkata,




"Dunia adalah perputaran, harta adalah kebinasaan, orang-orang sebelum kita adalah cerminan bagi kita, adapun kita adalah pelajaran bagi orang-orang setelah kita". 
4

Dari sumber yang sama diceritakan, Pernah dikatakan bahwa anak-anak Yahya pernah bertanya kepada ayahnya tatkala semua ditahan dalam penjara, "Wahai ayah, mengapa setelah kemuliaan dan kebahagiaan, kita berupa seperti ini keadaannya?" Dia menjawab,




"Wahai anakku, doa orang yang terdzolimi kita lalaikan padahal Alloh tidak pernah melalaikannya".


Contoh lainnya lagi adalah Ibnu Nujayyah, Zainuddin Abu Hasan Ali bin Ibrohim AI-Hanbali yang wafat tahun (599 H), beliau termasuk para ulama yang kaya lalu berubah menjadi fakir. Abu Syamah mengatakan,




"Sekalipun demikian, dia meninggal dalam keadaan fakir, dikafani oleh teman-teman sejawatnya, hartanya melayang musnah, keadaannya berubah. Dia wafat di kota Mesir dan dikuburkan disana".
5

Contoh terakhir adalah musuh Alloh yang merugi, Ibnu ‘Al Qomi AI-Baghdadi, seorang Rafidhoh. Imam Dzahabi menceritakan,



"Dia berkuasa selama empat belas tahun lalu menyebarkan pemikiran Rafidhoh dan memerangi sunnah, dihina namun bertambah beringas. Tatkala sampai khabar kepadanya bahwa Hulaku ingin memerangi lraq, maka dia
(Ibnu ‘AI Qomi) mendukungnya dan mengajak bersatu dengannya. Dia membuat lubang yang dalam (sumur) untuk menjebak umat Islam, namun dia sendirilah
yang terjerumus dalamnya. Senjata makan tuan.

Dia merasakan kehinaan, pulang dengan babak belur padahal sebelumnya dia menaiki tunggangan kerajaan. Tak lama kemudian dia mati dalam keadaan hina dina. Lebih-lebih di akherat kelak, tentu lebih dahsyat adzabnya". 
6

Demikianlah akibat orang-orang yang tidak mewujudkan syukur kepadaAlloh atas nikmat yang dikaruniakan kepada mereka. Jadikanlah kisah mereka sebagai pelajaran dalam kehidupan yang fana ini, niscaya engkau akan bersyukur.



Sebagai penutup, penulis selipkan sebuah nasehat Nabi Muhammad kepada seorang sahabatnya yang mulia, Muadz bin Jabal:




Demi Alloh, wahai Muadz, sesungguhnya aku mencintai dirimu, maka aku wasiatkan kepadamu, janganlah engkau lupa untuk membaca (do’a) pada setiap akhir sholat,

"Ya Alloh, tolonglah aku untuk berdzikir kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu dan beribadah yang baik kepada-Mu". 
7


Semoga Alloh memasukkan kita termasuk golongan orang-orang yang bersyukur.
Amin.





Catatan Kaki
2
Lihat Lisan Mizan 5/ 263 karya Ibnu Hajar.

3
Adh-Dhou Lami’ 2/310.

4
Siyar A’lam Nubala’ 9/90 karya Adz- Dzahabi.

5
Dhail Ar- Roudhataini hal. 35.

6

Siyar A’lam Nubala’ 23/362 karya Adz-Dzahabi.

7
HR. Abu Daud (985) Ahmad (4/ 338) Nasa’i
(3/502) dan Ibnu Huzaimah (724) dengan sanad shohih.

Friday, November 27, 2015

Nilai Sebuah Nikmat (2/3)

Setelah pendahuluan mengenai nikmat, pengertian dan hakikat syukur, pada bagian kedua akan dijelaskan mengenai betapa lembutnya syukur itu oleh penulis kitab Al-Fawaid (ibnul Qayyim al-jauziyah). Dan perlu diketahui juga bahwa sifat syukur itu adalah suatu sifat yang menjadi ciri khas para Nabi dan Rasul ‘alaihimas salam.





2 Kelembutan Syukur



Imam Ibnu Qoyyim menjelaskan dalam kitabnya AI-Fawaid (hal.
48),




"Termasuk kelembutan beribadah dengan nikmat adalah menganggapbanyak nikmat Alloh sekalipun hanya sedikit, dan menganggap sedikit syukurnya kepada Alloh. Meyakini bahwa nikmat Alloh itu dia peroleh tanpa membayar kepada Sang Pemberi nikmat, dan menganggap bahwa dia sebenarnya tidak berhak mendapatkannya karena semua nikmat hanyalah milik Alloh, bukan milik hamba.


"Sehingga dengan demikian, kenikmatan yang Alloh berikan kepada hamba akan menambahkan sifat tawadhu’ (rendah diri), ketundukan dan kecintaan dalam dirinya kepada yang Maha pemberi nikmat. Setiap kali Alloh memberinya nikmat, hal tersebut menambah ibadah, kecintaan dan kerendahannya. Inilah hamba yang cerdas, jauh dari mengikuti hawa nafsu".





3 Syukur Merupakan Sifat Para Nabi



Tidakkah diri kita ingin meneladani para Nabi, manusia pilihan Robb semesta alam yang telah diutus ke dunia sebagai suri tauladan bagi umatnya?! Ketahuilah bahwa salah satu sifat istimewa mereka adalah syukur terhadap nikmat Alloh. Berikut beberapa contoh kisah para Nabi yang bersyukur:





3.1 Nabi Ibrahim



Alloh berfirman tentang dirinya,



Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Alloh dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan), (lagi) yang mensyukuri nikmat-nikmat Alloh. Alloh telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus.
(QS. An-Nahl: 120-121)






3.2 Nabi Nuh



Alloh berfirman dalam AI-Qur’an tentangnya:



Sesungguhnya dia (Nuh) adalah hamba (Alloh) yang banyak bersyukur.
(QS. Al-lsra’: 3)






3.3 Nabi Sulaiman



Alloh berfirman tentangnya:




Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut, Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari", maka dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdo’a, "Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmatMu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh". (QS. An-Naml: 18-19).






3.4 Nabi Muhammad 



Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan sebuah hadits yang sangat menarik untuk menjadi perhatian bersama sehingga menyadarkan kita akan kurangnya syukur kita kepada Alloh.



Dari Mughiroh berkata bahwa Nabi sholat malam sehingga bengkak kedua kakinya, maka dikatakan kepadanya, "Mengapa engkau melakukan hal ini padahal Alloh telah mengampuni dosa anda yang telah lalu dan yang akan datang?" Beliau menjawab, "Apakah saya tidak ingin menjadi hamba yang bersyukur?"

Beliau seorang rasul yang telah diampuni dosanya masih senantiasa
berusaha menjadi orang yang bersyukur dengan selalu mendekatkan diri kepada Alloh. Tentunya kita sebagai manusia biasa yang banyak melakukan dosa dan kesalahan haruslah benar-benar mencontoh beliau dalam bersyukur.





4 Kesudahan Syukur Nikmat Dan Kufur Nikmat



Alloh berjanji dalam kitab-Nya yang mulia bahwa Dia akan menambah kenikmatan hamba apabila mereka bersyukur kepada Alloh.




Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (QS. Ibrahim: 7)


Sebaliknya, apabila hamba tidak bersyukur kepada Alloh, maka janganlah heran bila kenikmatan negeri yang gemah ripah loh jinawi, kemewahan, kekayaan, kesehatan dan lainnya berubah menjadi kehancuran dan malapetaka bagi negeri dan penghuninya.




Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (kepada mereka dikatakan), "Makanlah olehmu dari rezki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun". Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl (sejenis cemara) dan sedikit dari pohon Sidr (sejenis bidara). Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena kekafiran mereka. Dan Kami tidak menjatuhkan azab (yang demikian itu), melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir. (QS. Saba: 15-17)


Kemudian renungkanlah kisah Qorun yang diabadikan dalam AI-Qur’an:




Sesungguhnya Qarun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya, "Janganlah
kamu terlalu bangga,’’sesungguhnya Alloh tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri". (QS. Al Qohoshos:
76
).


Tapi bagaimana kesudahannya?



Bacalah ayat selanjutnya:



Maka Kami benamkanlah Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golongan pun yang menolongnya terhadap azab Alloh. Dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat)membela (dirinya).
(QS. Al-Qohoshos: 81).


Oleh karena itu, ingatlah bahwa Alloh-lah yang menciptakan kita di
dunia dan memberi kita nikmat agar Dia mengetahui siapakah hambanya yang bersyukur dan kufur.



Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat. Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus, ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir. (QS. Al-’lnsan: 2-3)







Disalin dari Majalah Al-Furqon Edisi 4 Th IV/1425H

Nilai Sebuah Nikmat (1/3)

Betapa melimpahnya nikmat AIIoh yang dicurahkan kepada hambaNya! Tetapi betapa minimnya syukur hamba kepada Robb mereka! Belum tibakah saatnya bagi segenap hamba untuk bangun dan sadar dari kelalaian mereka selama ini?!

Wahai hamba Alloh, ketahuilah bahwa Alloh telah memberikan karunia kepada kita dengan berbagai kenikmatan yang tak terhingga jumlahnya. Alloh berikan kehidupan, kesehatan, kecukupan, makanan, minuman, pakaian, jabatan, popularitas dan banyak lagi lainnya. Tidakkah kita rasakan?

Dan jika kamu menghitung nikmat Alloh, tidaklah dapat kamu menghitungnya.
Sesungguhnya manusia itu, sangat dhalim dan sangat mengingkah (nikmat
Alloh). (QS. Ibrahim: 34)

Wahai hamba Alloh, Ingatlah, pikirkanlah, renungkanlah nikmat Alloh dan janganlah sekali-kali kita melupakannya!


Maka ingatlah nikmat-nikmat Alloh supaya kamu mendapat keberuntungan.
(QS. Al A’rof: 69).
Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.
(QS. Al-Baqoroh: 152).


Demikianlah, kenikmatan Alloh terhadap hamba begitu banyak tak terhingga! Namun, bagaimanakah manusia mensikapinya? Bacalah firman Alloh:



Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang berterima kasih. (QS. Saba’: 13)

Wahai hamba Alloh, bangunlah dari tidur kita dan kelalaian kita! Sudahilah dan akhirilah semua ini! Janganlah kita mengikuti tipu daya "musuh bebuyutan" kita yang telah mengeluarkan sumpahnya kepada Robb kita:



Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (ta ‘at). (QS. AI-A’rof: 17)
Dari Ibnu Abbas berkata: Nabi bersabda,


"Dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu padanya, kesehatan dan kelonggaran (waktu)".
1





1 Makna Dan Hakekat Syukur


Syukur tidak cukup hanya sekedar mengucapkan "Al Hamdulillah"
dengan lisannya. Namun lebih luas dari itu, sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Ibnu Qoyyim dalam kitabnya Madarij Salikin, (2/254), beliau berkata,



"Hakekat syukur terhadap nikmat Alloh adalah menampakkan pujian dengan lisan, kecintaan di hatinya dan ketaatan pada anggota tubuhnya. Syukur dibangun di atas lima landasan utama: ketundukan kepada Alloh, kecintaan kepada-Nya, pengakuan terhadap nikmat-Nya,
pujian kepada-Nya dan tidak menggunakannya dalam kemaksiatan kepada Alloh. Inilah lima landasan syukur.
"Barangsiapa yang tidak melaksanakan salah satu dari lima
landasan tersebut, berarti satu landasan telah hilang darinya".


Imam Ibnu Qudamah juga menjelaskan dalam Minhajul Qosidin
hal. 305,



"Syukur adalah dengan hati, lisan dan anggota badan. Maksudnya dengan hati yaitu dengan meniatkan untuk kebaikan. Dengan lisan yakni dengan menampakkan tanda syukur tersebut dengan ucapan tahmid (AIhamdulillah)
dan dengan anggota badan artinya menggunakan nikmat tersebut dalam ketaatan kepada Alloh serta tidak menggunakannya untuk bermaksiat kepada-Nya.

"Maka termasuk tanda syukur bagi nikmat mata adalah dengan menyembunyikan segala kecacatan saudaramu yang engkau lihat. Dan termasuk syukur terhadap nikmat telinga adalah menyembunyikan segala kecacatan
saudaramu yang telah engkau dengar. Semua ini termasuk syukur terhadap nikmat anggota tubuh".






Catatan Kaki

1

HR. Bukhari no. 6412.

Wednesday, November 25, 2015

Bahaya Fitnah Harta 2


Lebih lanjut mengenai fenomena yang sangat umum ini, berikut akan dibahas tentang penjelasan hadits “Celakalah hamba dinar, celakalah hamba dirham …” dan akibat yang dapat ditimbulkan dari fitnah ini. Di antaranya adalah mendorong seseorang untuk melakukan perbuatan syirik. Apa saja perbuatan itu? Mengapa bisa demikian?



Diriwayatkan dalam Shahih Bukhari, dari Abu Hurairah. Dia menuturkan bahwa Rasulullah bersabda:



"Celakalah hamba dinar, celakalah hamba dirham, celakalah hamba khamisah, dan celakalah hamba khamilah. Jika diberi, dia senang, tetapi jika tidak diberi, dia marah. Celakalah dia dan tersungkurlah. Apabila terkena duri, semoga tidak dapat mencabutnya.

"Berbahagialah seorang hamba yang memacu kudanya (berjihad dijalan Allah) dengan rambutnya yang kusut dan kedua kakinya berlumur debu . Bila dia berada di pos penjagaan, dia akan tetap setia berada di pos penjagaan itu. Bila ditugaskan di garis belakang, dia akan tetap setia berada di garis belakang itu. Jika dia meminta ijin (untuk

menemui raja atau penguasa), tidak diperkenankan. Jika bertindak sebagai perantara, tidak diterima perantaraamya".



Syaikhul Islam berkata,




"Nabi menyebutnya hamba dinar, hamba dirham, hamba qathifah
dan hamba khamishah." Dia menyebutkan kalimat yang
ada di dalam hadits (do’a dengan lafazh khabar), yaitu sabdanya


"Celakalah dia dan tersungkurlah. Apabila terkena duri, semoga tidak dapat mencabutnya".

4





Demikian keadaan seseorang yang bila tertimpa keburukan, ia tidak
dapat lolos darinya dan tidak beruntung. Dia telah celaka dan tersungkur, tidak dapat meraih yang diharapkannya dan tidak dapat meloloskan diri dari sesuatu yang dibenci. Begitulah keadaan seseorang yang menjadi hamba harta.





Nabi telah memberinya sifat "Jika diberi, dia senang, jika
tidak diberi, dia marah". Sebagaimana firman Allah Ta’ala



"Dan di antara mereka ada orang yang mencelamu tentang (pembagian) zakat, jika mereka diberi sebagian darinya, mereka bersenang hati, dan jika mereka tidak diberi sebagian darinya, dengan serta merta mereka menjadi marah". (QS At Taubah : 58).




Ridha mereka ditujukan untuk selain Allah,  Beginilah keadaan orang yang menggantungkan dirinya kepada hawa nafsunya. Jika memperolehnya, dia senang. Dan jika tidak memperolehnya, dia marah. Dia memperturutkan hawa nafsu dan menjadibudaknya. Allah berfirman:




Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanya sebagai fitnah (cobaan) dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar. (QS 
Al Anfal: 28).



Fitnah harta, telah menjerumuskan manusia pada perilaku menyimpang.bahkan sampai pada bentuk syirik. Di antaranya :




  1. Demi harta, ada diantara manusia yang berpuasa siang malam, bahkan puasa pati geni, melakukan ritual dikubur hidup-hidup.

  2. Seseorang yang ingin kaya, ada yang dengan cara mendatangi suatu tertentu untuk melakukan ritual sesat, misalnya tukar pasangan suami atau istri.

  3. Bila ingin dagangannya laris, ada yang mempercayainya dengan cara mengambil kotoran binatang tertentu yang konon mendatangkan berkah.

  4. Acara-acara yang dikemas dengan jargon pelestarian budaya, denganmenampilkan berbagai jenis makanan. Kemudian makanan-makanan ini diperebutkanmasyarakat yang hadir. Konon, makanan tersebut bisa mendatangkan berkah.

  5. Atau kalau ingin kaya, ada yang mendatangi suatu tempat tertentu agarmendapatkan sesuatu yang menjadi sarana menjadi kaya, misalnya mencarituyul, yang diyakini bisa mendatangkan rezeki.

  6. Di antara pedagang kadang saling bersaing. Agar bisa bersaing dandagangannya laris, kemudian mencari penglarisan melalui dukun-dukun,orang-orang "pintar", ataupun paranormal. Dalam
    menjatuhkan saingannya, terkadang dengan mengirim gangguan berupa sihir, santet, dan sebagainya.

  7. Ingin mendapatkan harta dengan menggunakan ilmu gendam untuk menghipnotis seseorang. Dengan ditepuk punggungnya, seseorang yang menjadi korbannya tersebut akan menyerahkan hartanya tanpa sadar. Demikian ini adalah sihir.

  8. Atau di tengah masyarakat, muncul adanya berita dengan istilah "jadi-jadian". Ada kijang jadi-jadian, babi jadi-jadian, dan lain-lain. Binatang "jadi-jadian" tersebut berkeliling desa, dan rumahyang dilewati menjadi sial, harta atau uangnya ada yang tercuri.




Fenomena-fenomena tersebut merupakan perbuatan syirik, karena mereka bersandar kepada selain Allah dalam mencari rezeki. Seperti, kepada dukun, benda-benda yang dianggap keramat, atau meminta bantuan jin, setan, padahal jin atau setan itu mau membantu dengan imbalan yang lebih banyak, yaitu supaya seseorang menyembah kepadanya.





Menyembah yang juga berarti tunduk dan sujud kepada jin. Misalnya, mengikuti perintahnya ataupun menyiapkan sesajen, dan lain-lain. Semakin seseorang itu memiliki loyalitas yang kian bertambah kesyirikannya, maka akan semakin mujarab pertolongan yang diberikan jin kepada orang tesebut. Wa na’udzu billahi min dzalik.




Allah telah memperingatkan di dalam Al Qur’an perihal perbuatan syirik yang berbahaya ini:




Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendakiNya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat
dosa yang besar. (QS An Nisa’: 48).



Barangsiapa mengikat suatu ikatan lalu meniupnya, maka dia telah melakukan sihir, dan barangsiapa melakukan sihir, maka dia telah berbuat syirik. Barangsiapa menggantung sesuatu (jimat), maka dia akan diserahkan
kepada sesuatu itu.


Barangsiapa mendatangi dukun lalu membenarkan ucapannya, maka dia

telah kafir terhadap wahyu yang diturunkan kepada Muhammad.
Dan bahwasannya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki- laki di antarajin, makajin-jinitu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan. (QS Al Jin: 6).
Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi)sebelummu: "Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapus amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi".

(QS Az Zumar: 65).



Inilah di antara fitnah harta, yang bisa menjerumuskan manusia kepada kesesatan. Maka sudah seharusnya kita selalu mewaspadai dan menyampaikan amar ma’ruf nahi munkar. Semoga kita terhindar dari fitnah ini. Wallahu a’lam.






Catatan Kaki



3
Lihat Fathul Majid Syarh Kitab At Tauhid, Min Asy Syirki Iradatul

Insan Bi’Amalihi Ad Dunya. terjemah bebas dan ringkas.

4           Lihat Fathul Majid Syarh Kitab At Tauhid, Min Asy Syirki Iradatul
Insan Bi’Amalihi Ad Dunya, hlm. 442. Cet. X- 1424 H. Terbitan khusus

untuk wakaf.

Saturday, November 21, 2015

Bahaya Fitnah Harta 1



Harta merupakan salah satu fitnah dunia yang paling menonjol. Demi harta, seseorang rela berbuat apa saja asal bisa meraihnya. Tujuan hidupnya, seolah hanya untuk mencapai kesenangan duniawi belaka.

Allah telah mensinyalir orang-orang yang seperti ini dalam surat Hud ayat 15-16 :


Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan. (QS Hud : 15, 16).



Dalam masalah ini, Syaikh Al Utsaimin telah membedakan antara riya’ dengan keinginan mendapat dunia. Riya’, ialah seseorang yang beribadah karena ingin dipuji agar dikatakan sebagai ‘abid (ahli ibadah), dan ia tidak menginginkan harta. Adapun keinginan terhadap dunia yang dimaksudkan dalam ayat ini, seseorang beribadah bukan karena ingin dipuji atau dilihat, bahkan sebenarnya ia ikhlas dalam beribadah kepada Allah. Akan tetapi ia ingin mendapatkan sesuatu dari dunia, seperti harta, pangkat, kesehatan, baik pribadi, keluarga maupun anak, dan lain-lain. Jadi dengan amal ibadahnya ia inginkan manfaat dunia dan tidak menginginkan pahala akhirat.




Beliau memberikan contoh-contoh bagaimana seseorang menginginkan dunia dengan amal ibadahnya. Misalnya: menjadi muadzin dengan niat mencari uang. Berangkali haji dengan tujuan mencari kemulian dunia. Belajar agama di perguruan tinggi dengan niat mencari ijasah agar martabatnya naik. Melakukan beberapa jenis peribadahan dengan maksud menyembuhkan penyakit, atau supaya disenangi orang lain atau supaya tidak mendapat gangguan, atau maksud-maksud lain.



Karena itu, kita harus berhati-hati, jangan sampai terjatuh ke dalam
syirik niat sebagaimana yang disebutkan dalam surat Hud ayat 15-16 di atas.




Sebuah ironi, bila seorang da’i, ketika berbicara tentang hikmah dan manfaat ibadah, justeru menitikberatkan pada faidah-faidah duniawi. Misalnya, shalat adalah olah raga yang berfaidah menguatkan otot-otot, puasa berfaidah menghilangkan (mengurangi) lemak dan mengatur makan.

Seharusnya kita tidak menjadikan faidah- faidah duniawi sebagai masalah pokok dalam beribadah, karena Allah tidak pernah menyebutkan yang demikian itu di dalam Al Our’an. Akan tetapi Allah menyebutkan bahwa shalat akan mencegah perbuatan keji dan mungkar. Begitu pula menyebutkan puasa, untuk meningkatkan ketakwaan.




Faidah diniyah dalam ibadah inilah yang menjadi masalah pokok, adapun faidah duniawi merupakan masalah kedua. Sehingga apabila seorang da’i berbicara di depan khalayak umum, maka yang lebih penting ialah menyampaikan atau menyebutkan faidah-faidah diniyahnya saja. Apabila memang diperlukan, barulah disampaikan faidah diniyah dan duniawi. Setiap pembicaraan
ada tempatnya.2.




Dalam Fathul Majid, disebutkan bahwa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab telah ditanya tentang ayat 15 dan 16 surat Hud di atas, lalu beliau menjawab, yang intinya, telah disebutkan oleh para ulama salaf, bahwa di dalam ayat tersebut mengandung penjelasan beragamnya perilaku amal manusia pada zaman ini dan mereka tidak mengerti maksudnya.





  1. Pertama, amal shalih yang dilakukan oleh banyak orang untuk
    mencari ridha Allah, seperti shadaqah, shalat, menyambung tali persaudaraan, berbuat baik kepada manusia, meninggalkan kezhaliman, dan amal-amal lain yang dilakukan atau ditinggalkan manusia karena ikhlas kepada Allah. Akan tetapi, orang yang melakukannya tersebut tidak menginginkan pahalanya di akhirat.




    Dia hanya ingin agar Allah menjaga hartanya dan mengembangkannya, menjaga istri dan anak- anaknya, atau supaya Allah melanggengkan karunia yang diberikan kepadanya. Tidak terpikir olehnya untuk mencari surga dan lari dari neraka. Orang semacam ini diberi ganjaran amalnya di dunia, sedangkan di akhirat tidak ada bagian untuknya. Jenis perbuatan yang pertama ini disebutkan oleh Ibnu Abbas.




  2. Kedua, ini lebih fatal dan lebih dikhawatirkan dari yang
    pertama. Inilah ayat yang disebutkan Mujahid bahwasanya turun berkaitan dengan permasalahan kedua ini. Yaitu seseorang beramal shalih namun niatnya untuk riya’ kepada manusia, tidak untuk mencari pahala akhirat.

  3. Ketiga, seseorang beramal shalih dengan tujuan harta, seperti
    berhaji karena ada harta yang akan ia raih, bukan karena Allah, berhijrah karena dunia yang akan diperolehnya, atau perempuan yang akan dinikahinya, atau berjihad untuk mendapatkan ghanimah. Begitu juga, seseorang yang belajar karena untuk kepentingan sekolah keluarganya, untuk pekerjaan mereka atau kepemimpinan mereka, atau belajar Al-Qur’an dan rajin melakukan shalat karena untuk mencari pekerjaan di masjid seperti yang banyak terjadi sekarang.

  4. Keempat, seseorang mengerjakan ketaatan kepada Allah murni
    hanya untuk Allah saja, akan tetapi dia melakukan perbuatan kufur yang membuatnya keluar dari agama Islam. Misalnya, orang Yahudi dan Nasrani yang menyembah Allah, bersedekah dan berpuasa untuk mencari ridha Allah dan akhirat. Dan seperti banyak orang dari umat ini, yang di antara mereka ada yang berbuat kufur dan syirik besar, sehingga mengeluarkan mereka dari agama Islam secara keseluruhan. Mereka taat kepada Allah dengan rnurni untuk mengharapkan pahala Allah di akhirat, akan tetapi mereka melakukan perbuatan yang mengeluarkan mereka dari Islam dan menyebabkan tidak diterimanya amal. Macam ini juga telah disebutkan dalam penafsiran ayat ini, dari Anas bin Malik dan lainnya.








Catatan Kaki



l Qaul al mufid ‘Ala Kitab at Tauhid, Syaikh Muhammad bin

Shalih al utsaimin. Bab Min Asy syirki Iradatulinsan bi’amalihi ad Dunya II/243 Daar Al ‘Ashimah cet.I - 1415 H. Dengan terjemah bebas dan agak ringkas.
2 Al Qaulul Mufid, II/245

auto insurance, auto insurance quotes, auto insurance companies, auto insurance florida, auto insurance quotes online, auto insurance america, auto insurance comparison, auto insurance reviews, auto insurance calculator, auto insurance score, auto insurance quotes, auto insurance companies, auto insurance florida, auto insurance quotes online, auto insurance america, auto insurance comparison, auto insurance reviews, auto insurance calculator, auto insurance score, auto insurance ratings

Follow us on Facebook :P

Blogger news