Monday, October 12, 2015

Waspadai Perbuatan Tasyabbuh / Menyerupai Non Muslim



Al Ustadz Abu Musa Saifuddin Zuhri , Lc
 
Sesungguhnya setiap muslim telah dibimbing untuk senantiasa memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar ditunjukkan kepada jalan yang lurus, yaitu jalan yang telah ditempuh oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini sebagaimana doa yang selalu dilantunkan dalam shalat yakni saat membaca surat Al-Fatihah.
 
Surat tersebut mengandung permohonan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar bisa berpegang dengan ajaran Islam secara benar dan dijauhkan dari mengikuti jalan Yahudi dan Nashara. Namun barangkali karena tidak memahami apa yang terkandung dalam doa yang dibaca atau tidak menghadirkan hati ketika membacanya, maka kita melihat sebagian kaum muslimin banyak yang terjatuh dalam perbuatan meniru-niru orang kafir.

Diantara bentuk meniru-niru orang kafir yang banyak dilakukan oleh sebagian kaum muslimin adalah sebagai berikut:
 
1. Mengeramatkan kuburan/makam tertentu, mengagungkan orang-orang shalih secara berlebihan, serta menjadikan kuburan mereka sebagai masjid, yaitu dengan melakukan berbagai bentuk ibadah di atasnya atau dengan mengubur seseorang di masjid.
 
Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah menjelaskan: “Dan di antara perbuatan bid’ah dan perkara yang mengantarkan pada perbuatan syirik adalah apa yang dilakukan di sekitar kuburan berupa shalat, membaca Al Qur’an, dan membangun masjid atau bangunan kubah di atasnya. Ini semua adalah bid’ah dan kemungkaran, serta menghantarkan pada syirik besar.

Oleh karena itu, telah datang hadits yang shahih dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau bersabda: “Allah melaknat Yahudi dan Nashara yang menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai masjid.” (Muttafaqun ‘Alaih)

Kemudian setelah menyebutkan hadits lain yang semakna dengan hadits di atas, beliau rahimahullah menyatakan:
 
“Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan dalam dua hadits ini dan hadits-hadits lainnya yang semakna dengan kedua hadits tersebut bahwasanya Yahudi dan Nashara menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai masjid. Maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan umatnya untuk tidak meniru-niru mereka dengan menjadikan kuburan sebagai masjid. Seperti shalat, i’tikaf, dan membaca Al Qur’an di kuburan, karena semua itu termasuk dari perkara-perkara yang akan menyebabkan kesyirikan. Termasuk dalam perkara ini adalah membuat bangunan di atas kuburan, membangun kubah, serta memberikan kain kelambu di atasnya. Maka semua itu adalah hal-hal yang menyebabkan kesyirikan dan berlebih-lebihan terhadap yang dikubur. Sebagaimana hal tersebut telah terjadi di kalangan Yahudi dan Nashara dan juga orang-orang bodoh dari umat sekarang ini…” (Fatawa Muhimmah Tata’allaq Bil ‘Aqidah, hal. 14-15 )

2. Merayakan perayaan-perayaan yang tidak ada dalam Islam.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memuji orang-orang yang tidak menyaksikan perayaan orang-orang kafir sebagaimana tersebut di dalam firman-Nya:

وَالَّذِيْنَ لاَيَشْهَدُوْنَ الزُّوْرَ
 
“Dan orang-orang yang tidak menyaksikan az-zuur.” (Al-Furqan: 72)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata tentang tafsir ayat tersebut: “Dan sungguh telah berkata lebih dari satu orang dari kalangan salaf tentang firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
 
وَالَّذِيْنَ لاَيَشْهَدُوْنَ الزُّوْرَ
 
Mereka mengatakan (tentang makna az-zuur) yaitu hari-hari raya orang kafir. (Majmu Fatawa, 25/331)

Maka tidak boleh bagi kaum muslimin untuk menghadiri perayaan orang-orang kafir terlebih merayakannya.

Dan termasuk dalam hal ini adalah menjadikan hari raya mereka sebagai hari libur, seperti mengkhususkan hari Sabtu dan Ahad sebagai hari libur.

Al-Lajnah Ad-Daimah (Lembaga Fatwa Arab Saudi) menyebutkan dalam fatwanya: “Tidak boleh mengkhususkan hari Sabtu atau Ahad sebagai hari libur, atau menjadikan keduanya sebagai hari libur karena hal itu termasuk meniru-niru orang Yahudi dan Nashara. Karena sesungguhnya Yahudi meliburkan hari Sabtu dan Nashara meliburkan hari Ahad dalam rangka memuliakan kedua hari tersebut…” (Fatawa Al-Lajnah, 2/75)

Kemudian lebih rinci Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjelaskan: “Tidak boleh bagi kaum muslimin untuk meniru-niru mereka dalam hal-hal yang dikhususkan untuk perayaan-perayaan mereka. Tidak pula dalam makanan, pakaian, mandi, menyalakan api, meliburkan kebiasaan bekerja atau beribadah, atau yang selainnya. Dan tidak boleh untuk mengadakan pesta, memberikan hadiah, atau menjual sesuatu yang membantu dan bertujuan untuk acara tersebut. Serta tidak boleh membiarkan anak-anak kecil atau yang seusianya untuk bermain-main kaitannya dengan perayaan tersebut dan tidak boleh memasang hiasan (menghiasi rumah/ tempat tertentu dalam rangka menyemarakkan perayaan tersebut, pent).” (Majmu’ Fatawa, 25/329)

Namun sangat disayangkan masih banyak di antara kaum muslimin yang meniru-niru perayaan mereka. Bahkan ada yang ikut serta merayakan hari raya mereka. Di antaranya ada yang memberikan ucapan selamat atau ikut meramaikannya dengan berbagai acara seperti meniup terompet pada malam tahun baru dan yang semisalnya. Serta memasang hiasan-hiasan di rumahnya pada saat perayaan mereka.

Selanjutnya termasuk dalam hal ini adalah memperingati hari kelahiran seseorang baik itu memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam (perayaan Maulud Nabi) atau hari kelahiran lainnya. Begitu pula merayakan peristiwa-peristiwa tertentu seperti Isra’ Mi’raj, awal tahun baru Hijriyyah, serta merayakan hari atau pekan tertentu sebagai hari khusus untuk beramal seperti hari ibu, pekan kebersihan, dan sebagainya.

Ini bukan berarti kaum muslimin mengabaikan serta tidak mengambil pelajaran dari peristiwa-peristiwa tersebut. Bahkan kaum muslimin senantiasa dituntut untuk selalu mengisi hari-harinya dengan kegiatan yang bermanfaat dan diridhai Allah Subhanahu wa Ta’ala. Namun (hal ini dilarang) karena perayaan adalah salah satu bentuk ibadah yang tidak boleh dikhususkan dengan dilakukan secara berulang-ulang (ditradisikan, red) kecuali ada perintah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala atau Rasul-Nya.
 
Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan: “…Dan perbuatan ini (perayaan maulid Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, pent) tidak pernah dilakukan pada masa-masa terbaik umat ini, akan tetapi ini hanyalah perbuatan yang diada-adakan pada abad ke-6 Hijriyah dalam rangka mengikuti Nashara yang merayakan hari kelahiran Al-Masih ‘alaihissalam Dan sungguh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang dari meniru-niru mereka.” (Al-Khuthab Al-Mimbariyyah, hal. 89)

Jika orang-orang terbaik dari umat ini tidak melakukannya, lalu apa yang menyebabkan seseorang melakukannya? Apakah dirinya merasa lebih tahu dan lebih tinggi ilmunya dari para shahabat? Ataukah dia menganggap para shahabat lebih tahu namun mereka tidak mau mengamalkan ilmunya? Sungguh betapa jelasnya kesesatan yang ia lakukan.

Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah juga menyatakan:“Dan termasuk mengikuti mereka (orang-orang kafir, pent) di dalam perayaan-perayaan baik yang bersifat syirik ataupun bid’ah adalah seperti memperingati perayaan-perayaan hari kelahiran, baik kelahiran Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kelahiran para pemimpin atau penguasa. Dan kadang-kadang perayaan-perayaan yang sifatnya syirik dan bid’ah ini diberi nama dengan penyebutan hari-hari atau pekan-pekan. Seperti hari kemerdekaan, hari ibu, atau pekan kebersihan.” (Al-Khuthab, hal. 43)

3. Menggunakan kalender Masehi (kalender orang kafir) dan meninggalkan kalender Islam (Hijriyyah)

Sebagian besar kaum muslimin saat ini hampir tidak lepas dari kalender Masehi. Bahkan sebagian mereka nampak tidak peduli dengan kalender Hijriyyah. Terbukti, ketika ditanya kepada sebagian saudara-saudara kita kaum muslimin tentang bulan hijriyyah, maka banyak di antara mereka yang tidak hafal atau tidak mengetahuinya. Padahal penggunaan kalender hijriyyah sangat penting, karena banyak berhubungan dengan amalan ibadah seperti puasa wajib dan sunnah, ibadah haji, dan lainnya.

Al-Lajnah Ad-Daimah dalam fatwanya berkenaan seputar tahun 2000 M menyebutkan: “Kemuliaan bagi kaum muslimin adalah berpegangnya mereka dengan kalender hijrah Nabi mereka Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, di mana shahabat telah menyepakatinya. Mereka menggunakannya sebagai kalender tanpa ada perayaan (tahun baru, pent) dan kaum muslimin telah mewarisinya 14 abad setelah mereka sampai hari ini. Maka tidak boleh bagi seorang muslim untuk berpaling dari kalender Hijriyyah dan mengambil kalender lainnya yang digunakan manusia seperti kalender masehi. Hal itu berarti telah meminta ganti sesuatu yang lebih baik dengan sesuatu yang lebih buruk.”

4. Meniru-niru aturan, kebiasaan, serta akhlak orang kafir.

Semestinya seorang muslim selalu berpegang kuat dengan agamanya dalam seluruh aspek kehidupannya baik akidah, tata cara beribadah, aturan-aturan pergaulan, akhlak, maupun kebiasaannya. Namun masih banyak dari kaum muslimin yang kurang memperhatikan masalah ini. Maka tentunya hal ini menunjukkan lemahnya iman. Mereka tidak tahu bahwa dirinya telah tertipu dengan meninggalkan ajaran yang mulia dan mengambil ajaran yang rendah dan hina.

Di antara bentuk-bentuk meniru orang kafir dalam masalah ini seperti:
 
[1] Menggunakan aturan sosialis, sekuler, demokrasi, dan yang semisalnya dari aturan-aturan tata negara yang dibuat orang kafir. Demikian pula dalam sistem ekonomi seperti sistem riba dan sebagainya. Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah berkata: “Termasuk bentuk meniru-niru orang kafir adalah menjalankan aturan-aturan dan perundang-undangan orang kafir. Atau ajaran-ajaran yang berbahaya seperti ajaran sosialis dan ajaran sekuler yang membedakan antara agama dan pemerintahan, serta yang lainnya dari hukum, aturan ekonomi, dan aturan lainnya…” (Al-Khuthab, 2/168)

[2] Berbangga diri dengan menggunakan bahasa orang kafir atau menggunakannya tanpa ada kebutuhan. Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah berkata: “Dan termasuk dalam bentuk meniru-niru orang kafir adalah bercakap-cakap dengan bahasa orang-orang kafir pada kebutuhan yang tidak mendesak. Serta menulis dengan bahasa mereka di tempat-tempat berjualan di negara kaum muslimin. Atau mencampur kalimat dan istilah-istilah dari bahasa mereka di dalam buku-buku Islam dan karya-karya lainnya.” (Al-Khuthab, 2 / 168)

[3] Mencukur jenggot dan membiarkan kumis memanjang, serta menggunakan pakaian yang meniru-niru mereka dengan bentuk model yang tidak menutup aurat baik karena bentuknya yang ketat ataupun yang tipis kainnya (lihat Al-Khuthab, 1/102-104). Dan sebenarnya masih banyak sekali yang lainnya, yang tidak bisa kita sebutkan dalam kesempatan ini karena terbatasnya tempat.

[4] Tidak menyukai tersebarnya kebenaran, dan hasad terhadap ilmu serta keutamaan yang Allah berikan kepada ahlul ilmi, dan berbagai akhlak jelek lainnya.

Di dalam kitab Iqtidha Ash-Shirathil Mustaqim, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah telah menyebutkan beberapa akhlak Yahudi yang banyak ditiru oleh sebagian kaum muslimin. Diantaranya:
  • Mereka hasad terhadap hidayah dan ilmu yang Allah Subhanahu Wata’ala berikan kepada kaum muslimin.
  • Mereka menyembunyikan ilmu, baik karena bakhil yaitu agar selain mereka tidak mendapatkan keutamaan, atau karena takut akan dijadikan hujjah untuk membuktikan kesalahan mereka.
  • Mereka tidak mengakui kebenaran kecuali apa yang sesuai dengan kaum mereka.
  • Mereka merubah Kalam Allah Subhanahu wa Ta’ala baik lafadz ataupun maknanya.(Lihat Al-Iqtidha, 1/83-88)
Demikianlah secara ringkas sebagian kecil dari bentuk-bentuk tasyabbuh bil kuffar. Sesungguhnya masih banyak yang belum disebutkan karena sedikitnya ilmu dan lembar yang terbatas. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan hidayah dan taufiq-Nya kepada kita semua agar bisa berpegang dengan ajaran Islam dan diselamatkan dari segala bentuk meniru-niru orang kafir.
 
Karena seorang muslim semestinya tahu bahwa tidak ada agama yang diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kecuali agama Islam, dan bahwa agama ini telah menghapus agama-agama yang dibawa oleh nabi-nabi sebelumnya. Sehingga kalau agama yang benar yang dibawa oleh para rasul saja dihapus dengan datangnya agama yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini, lalu bagaimana dengan agama yang sudah berubah sebagaimana agama Yahudi dan Nashara yang ada sekarang ini? Maka tentunya sangatlah tercela perbuatan orang-orang yang meniru-niru orang kafir.

Wallahu ta’ala a’lam bish shawab.

Saturday, October 10, 2015

Andaikan Mereka Bersabar….


Redaksi Buletin Al Atsariyyah
 
Jika kita memperhatikan kondisi dakwah saat ini, maka kita akan menyaksikan pemandangan yang aneh dan menakjubkan, namun menyedihkan. Banyak da’i yang turun di kancah dakwah dengan semangat yang menggebu-gebu.Tujuan mereka tentunya mulia, yaitu meninggikan kalimat Allah, namun dengan cara yang salah !!

Begitu tingginya semangat mereka dalam berdakwah, sehingga terkadang mereka keluar dari rel syariat yang telah ditetapkan oleh Sang Maha Pencipta. Mereka menggunakan segala cara, tanpa adanya kontrol, dengan alasan "Niat kami kan baik, kami mau jihad…mau dakwah!!".
Oleh karena itu, sebagian orang, ada yang punya niat baik mau mendirikan khilafah Islamiyah dan menerapkan syari’at, tapi dengan cara yang salah sehingga melakukan pemboman disana-sini, mau melakukan kudeta atau demo, mengkafirkan penguasa muslim, dan mencelanya!! Ini semua adalah bentuk ketidaksabaran dalam berdakwah di jalan Allah!!! Padahal bersabar dalam berdakwah di jalan Allah adalah suatu suatu kewajiban yang besar yang harus dimiliki oleh para da’i. Oleh karena itu, Allah memerintahkan kepada imamnya para da’i, yaitu Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-,

"Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan." (QS.An-Nahl :127-128 ).

Para pegiat dakwah alias da’i amatlah butuh dengan kesabaran demi mencontoh Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- dalam ber-amar ma’ruf dan nahi mungkar. Ajarilah kaum muslimin tentang Al-Qur’an dan Sunnah berdasar pemahaman salaf, dengan telaten dan sabar. Jangan terburu-buru mau melihat hasil, atau berputus asa saat melihat musuh-musuh Islam berjaya sehingga kalian (para da’i) pun berbuat serampangan, dan keluar dari rel syari’at.

Umair bin Habib Al-Anshoriy-radhiyallahu ‘anhu- berkata, "Jika seorang diantara kalian ingin memerintahkan yang ma’ruf, dan melarang dari kemungkaran, maka hendaklah ia menempatkan dirinya di atas kesabaran terhadap segala cobaan, dan meyakini (akan mendapatkan) pahala dari Allah. Karena barangsiapa yang meyakini (akan mendapatkan) pahala dari Allah, maka ia tak akan merasakan cobaan apapun". [HR. Ibnu Abid Dunya dalam Al-Hilm (1/30)]

Pembaca yang budiman, sabar itu seperti namanya; pahit rasanya, namun hasilnya manis seperti madu. Allah -Ta’ala- telah menjelaskan kepada kita bahwa Dia pasti akan memberi ujian serta cobaan kepada para hamba-Nya. Terlebih lagi para da’i yang berdakwah di jalan-Nya untuk membedakan antara yang jujur dan yang pendusta, mukmin dengan munafiq, orang yang sabar dan orang yang tidak sabar. Ini merupakan sunnatullah bagi hamba-hamba-Nya. Allah -Ta’ala- berfirman,

"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? Dan Sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta". (QS. Al-Ankabuut: 2-3).

Dakwah di jalan Allah amat panjang perjalanannya, serta penuh dengan kesulitan, dan penderitaan. Karena da’i di jalan Allah menghendaki manusia untuk meninggalkan hawa nafsu dan syahwatnya, serta tunduk pada aturan-aturan-Nya, menegakkan hukum-hukum-Nya, dan mengamalkan syariat-syariat-Nya. Kemudian pasti disana ada musuh-musuh dakwah yang tidak menghendaki demikian. Maka tidak ada jalan keluar bagi para da’idan kaum muslimin dari makar musuh mereka, kecuali dengan memohon pertolongan yang disertai dengan usaha, dan kesabaran. Karena sabar bagaikan pedang yang tajam, kendaraan yang tidak menggelincirkan dan cahaya yang tidak pernah padam.

Kesabaran adalah tanda kuatnya iman seseorang. Sebab ia terpancar dari keyakinan kuat seseorang terhadap takdir yang telah ditetapkan oleh Allah.

Al-Mughiroh bin Amir-rahimahullah- berkata,

الشُّكْرُ نِصْفُ اْلإِيْمَانِ وَالصَّبْرُ نِصْفُ اْلإِيْمَانِ وَالْيَقِيْنُ اْلإِيْمَانُ كُلُّهُ


"Syukur adalah separuh iman, dan sabar adalah separuh iman, dan yakin adalah seluruh iman". [HR. Ibnu Abid Dunya dalam Asy-Syukr (1/24)]

Oleh karena itu, Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- memerintahkan kepada para sahabatnya untuk bersabar dalam menegakkan agama Allah -Ta’ala- , ketika mendapatkan siksaan, dan kekejaman kaum musyrikin di Mekah.

Abu Abdillah Khabbab bin Al-Aratt-radhiyallahu ‘anhu- berkata, "Kami mengadu kepada Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- sedangkan [beliau berbantalkan surbannya] di bawah naungan Ka’bah, [sedangkan kami baru saja bertemu dengan orang-orang musyrik yang menyiksa kami dengan siksaan yang sangat berat] seraya kami berkata, "Apakah engkau tidak memintakan pertolongan buat kami? Apakah engkau tidak mendo’akan (kemenangan) bagi kami?" Beliau bersabda,

قَدْ كَانَ مَنْ قَبْلَكُمْ يُؤْخَذُ الرَّجُلُ فَيُحْفَرُ لَهُ فِي اْلأَرْضِ فَيُجْعَلُ فِيْهَا ثُمَّ يُؤْتَى بِالْمِنْشَارِ فَيُوْضَعُ عَلَى رَأْسِهِ فَيُجْعَلُ نِصْفَيْنِ وَيُمْشَطُ بِأَمْشَاطِ الْحَدِيْدِ مَا دُوْنَ لَحْمِهِ وَعَظْمِهِ، مَا يَصُدُّهُ ذَلِكَ عَنْ دِيْنِهِ, وَاللهِ لَيُتِمَّنَّ هَذَا اْلأَمْرُ حَتَّى يَسِيْرَ الرَّاكِبُ مِنْ صَنْعَاءَ إِلَى حَضْرَمَوْتَ، لاَ يَخَافُ إِلاَّ اللهَ وَالذِّئْبَ عَلَى غَنَمِهِ وَلَكِنَّكُمْ تَسْتَعْجِلُوْنَ


"Sungguh orang-orang sebelum kalian ada yang ditanam hidup-hidup. Ada juga yang digergaji dari atas kepalanya, sehingga tubuhnya terbelah menjadi dua. Ada pula orang yang disisir dengan sisir besi yang mengenai daging dan tulangnya tetapi yang demikian itu tidak menggoyahkan mereka dari agamanya. Demi Allah, Allah pasti akan memenangkan agama ini hingga seseorang yang berjalan dari Shan’a sampai Hadramaut tidak ada yang ia takuti kecuali Allah, dan serigala yang akan menerkam kambingnya. Akan tetapi kalian sangat tergesa-gesa". [HR. Al-Bukhariy (3612, & 6943)]

Alangkah baiknya kita simak nasihat agung dari Seorang ulama’ salafiy, Syaikh Al-Utsaimin -rahimahullah- saat berkata menjelaskan hadits ini, "Dalam hadits ini terdapat dalil tentang wajibnya bersabar terhadap gangguan musuh-musuh kaum muslimin. Jika seorang sabar, maka ia akan menang!! Kewajiban seseorang adalah menghadapi sesuatu yang ia dapatkan berupa gangguan orang-orang kafir dengan kesabaran, mengharapkan pahala, dan menunggu kelapangan (kemenangan). Seseorang jangan menyangka masalah ini akan berakhir dengan cepat dan mudah. Terkadang Allah menguji orang-orang mukmin dengan orang-orang kafir yang menyakiti mereka, bahkan barangkali membunuh kaum mukminin sebagaimana mereka telah membunuh para nabi.Orang-orang Yahudi dari Bani Isra’il telah membunuh para nabi yang lebih mulia dibandingkan para dai, dan kaum msulimin. Seorang harus bersabar, dan menunggu kelapangan, serta tidak bosan, dan tidak berkeluh kesah, bahkan ia tetap tegar laksana batu. Akibat baik adalah milik orang-orang bertaqwa; Allah akan bersama orang-orang yang bersabar. Jika seorang muslim mau bersabar, dan tegar, serta mau menempuh jalan-jalan yang menyampaikan kepada tujuan dengan cara teratur, tapi bukan dengan cara berbuat keributan, tanpa mengajak, dan membangkitkan (emosi) massa. Karena musuh-musuh kaum muslimin dari kalangan orang-orang kafir, dan munafiq berjalan di atas rencana-rencana yang hebat, dan kokoh, dan merealisasikan tujuan mereka. Adapun orang-orang picik yang diombang-ambingkan oleh perasaan sehingga bergejolak (marah), dan bangkit, karena terkadang akan luput sesuatu yang banyak dari mereka, bahkan terjadi dari mereka ketergelinciran yang merusak sesuatu yang mereka dahulu telah bangun, jika mereka sungguh pernah membangun sesuatu. Tapi seorang mukmin harus bersabar, dan tenang; ia berbuat, tenang, dan menenangkan diri, serta membuat rencana secara rapi". [Lihat Syarh Riyadh As-Sholihin (1/104-105)]

Jika kita memperhatikan hadits Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- ini dengan baik, maka kita akan menemukan pelajaran yang sangat agung dan berharga, bahwa besarnya ujian yang didapatkan para sahabat nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- berupa gangguan dan siksaan kaum musyrikin dalam berpegang teguh dalam agama Allah -Ta’ala-. Walau demikian, Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- tetap memerintahkan mereka untuk bersabar dan tidak tergesa-gesa, sambil mencari solusi yang tepat.

Sebaliknya, Jika kita bandingkan dengan kondisi kaum muslimin pada hari ini, sungguh jauh berbeda. Tatkala mereka tidak mau bersabar, malah bersikap tergesa-gesa sehingga bukan hasil baik yang diraih, namun kehancuran dan kebinasaan. Jika kita mau melihat ke belakang, ada sebagian kaum muslimin yang tidak bersabar dan picik, mereka melakukan aksi-aksi teror dengan melakukan peledakan di mana-mana. Berawal dengan aksi spektakuler yaitu aksi penyerangan terhadap WTC dan Pentagon, tanggal 11 September 2001. Muncullah sosok Usamah bin Laden yang disebut-sebut sebagai pihak yang bertanggung jawab atas aksi tersebut. Nama Usamah bin Laden seketika itu menjadi "tenar" di dunia internasional. Hasilnya, Amerika Serikat membumihanguskan Afganistan dan Thaliban serta menghancurkan negeri-negeri kaum muslimin yang lain dengan alasan memerangi kaum teroris.

Di negeri kita pun tidak kalah heboh, orang-orang yang tidak mau bersabar dan picik pikirannya banyak melakukan aksi-aksi peledakan di nusantara ini. Mulai dari bom di Legian, Bali pada tanggal 12 Oktober 2002. Kemudian disusul peledakan di hotel JW Marriott, tanggal 5 Agustus 2003. Berselang berikutnya, disusul lagi peristiwa berdarah pada tanggal 9 September 2004 meledak pula bom di depan kantor Kedutaan Besar Australia. Tak usah jauh, di pelupuk mata kita, yaitu Mall Ratu Indah Makassar pun tidak lepas dari sasaran orang-orang teroris lagi picik ini!! Sehingga tertumpahlah darah orang-orang yang tidak dibenarkan secara syar’i untuk dibunuh, bahkan tidak sedikit dari kaum muslimin dan harta benda mereka yang ikut menjadi korban dalam peristiwa-peristiwa berdarah itu!!! Na’udzu billah minal fitan

Andaikan mereka mau bersabar , bertakwa, dan mengerjakan yang diperintahkan Rabb-nya, niscaya akan berikan pertolongan-Nya. Karena Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

وَاعْلَمْ أَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ, وَأَنَّ الْفَرَجَ مَعَ الْكَرْبِ, وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

"Ketahuilah bahwa kemenangan bersama kesabaran; kelonggaran bersama kesusahan, dan bersama kesulitan ada kemudahan". [HR. HR. Ahmad dalam Al-Musnad (1/307), Al-Hakim dalam Al-Mustadrok(6303 & 6304), Ath-Thobroniy dalam Al-Kabir (11560), Abd bin Humaid dalam Al-Musnad (636). Hadits ini di-shohih-kan Al-Arna’uth dalam Takhrij Al-Musnad (no. 2804) ]

Jadi, kesabaran merupakan senjata yang ampuh bagi kaum muslimin pada hari ini. Janganlah hanya karena melihat sebagian saudara-saudara kita yang tertindas oleh orang-orang kafir sehingga membuat kita gelap mata, membabi buta dan menghancurkan disana-sini serta membuat kerusakan di muka bumi. Sebab dari dahulu orang-orang kafir dan kaum munafiqin sangat besar kebencian dan permusuhannya terhadap kaum muslimin. Tengoklah orang-orang beriman dahulu, mereka disiksa dan ditindas, bahkan para nabi dan rasul pun dibunuh dan dibantai oleh orang-orang kafir. Bacalah firman Allah -Ta’ala- ketika mengingkari orang-orang yahudi yang membunuh para nabi,

"Katakanlah: "Mengapa kamu dahulu membunuh nabi-nabi Allah jika benar kamu orang-orang yang beriman?"
(QS. Al-Baqarah :91 ).

Abdullah bin Mas’ud-radhiyallahu ‘anhu- berkata,

كَأَنِّيْ أَنْظُرُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَحْكِيْ نَبِيًّا مِنَ اْلأَنْبِيَاءِ ضَرَبَهُ قَوْمُهُ فَأَدْمَوْهُ وَهُوَ يَمْسَحُ الدَّمَ عَنْ وَجْهِهِ وَيَقُوْلُ: اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِقَوْمِيْ فَإِنَّهُمْ لاَ يَعْلَمُوْنَ

Seakan akan saya melihat Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- sewaktu menceritakan salah seorang dari nabi-nabi ketika dipukuli oleh kaumnya sehingga berlumuran darah dan ia mengusap darah dari wajahnya sambil berdo’a : "Wahai Allah, ampunilah kaumku karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui" [HR. Bukhariy dalam Shohih-nya (3290), dan Muslim dalam Shohih-nya (1792)].

Walaupun siksaan dan cobaan yang dialami oleh para nabi dan rasul serta orang-orang beriman dahulu sangat berat, namun mereka tetap bersabar hingga datangnya pertolongan dari Allah. Mereka tidak meronta-ronta, dan membabi buta, lalu mengadakan kerusakan tanpa memikirkan akibat buruknya. Mereka tidak keluar ke jalan-jalan melakukan demonstrasi, bahkan mereka bersabar sesuai perintah Allah, sambil mencari solusi !!

Allah -Ta’ala- berfirman,

"Dan Sesungguhnya Telah didustakan (pula) rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Allah kepada mereka. tak ada seorangpun yang dapat merobah kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. dan Sesungguhnya Telah datang kepadamu sebahagian dari berita rasul-rasul itu ." (QS. Al-An’am :34 ).

Maka janganlah heran, ketika melihat kondisi kaum muslimin pada hari ini yang semakin mundur dan terbelakang. Tidak lain disebabkan oleh dosa-dosa mereka, dan tidak bersabar serta bersikap tergesa-gesa!!! Allah -Ta’ala- berfirman,

"Dan apa saja musibah yang menimpa kamu Maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)". (QS. Asy-Syuraa : 30).

Sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat dan jalan keluar dari setiap permasalahan itu ada. Di balik kesempitan ada kelapangan, dan di balik kesulitan ada kemudahan, jika kita mau bersabar, dan mencari solusinya seperti yang dipraktekkan oleh Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- dan para sahabat. Karena Allah telah menjanjikan semua itu, sedangkan Allah tidak pernah mengingkari janji-Nya. Allah -Ta’ala- berfirman,

"Maka bersabarlah kamu karena sesungguhnya janji Allah itu benar dan mohonlah ampunan untuk dosamu dan bertasbihlah seraya memuji Robbmu pada waktu petang dan pagi".
(QS.Ghofir :55 ).

Sumber : Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 70 Tahun II.

Jangan Bersedih atas Kematian Ahli Bid’ah


Milis AudioSalaf
 
al Fudlail bin Iyyadl berkata -semoga Alloh merahmatinya-: "Siapa yang menghormati ahli bid’ah berarti ia memberi bantuan untuk meruntuhkkan Islam dan siapa yang tersenyum kepada ahli bid’ah maka ia telah menganggap remeh apa yang diturunkan Allah Azza wa Jalla kepada Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan siapa yang menikahkan puterinya kepada mubtadi’ maka ia telah memutuskan hubungan silaturrahimnya dan siapa yang mengiringi jenazah seorang mubtadi’ akan senantiasa berada dalam kemarahan Allah sampai ia kembali." (Syarhus Sunnah 139)

Abul Qasim An Nashr Abadzy -semoga Alloh merahmatinya- berkata : “Sampai kepadaku bahwa al Harits al Muhasibiy mengucapkan sesuatu tentang Al Kalam (Al Quran) maka al-Imam Ahmad bin Hanbal menjauhinya, ia pun bersembunyi dan ketika ia (al-Harits al-Muhasibiy) mati tidak ada yang mendatanginya kecuali 4 orang.” (At Tahdzib 2/117 dan Tarikh Baghdad 8/216)

Ketahuilah, kematian 1 (satu) ulama dari kalangan ahlussunnah lebih pantas ditangisi,dan kita bersedih atasnya karena tidaklah ilmu itu diangkat melainkan karena Alloh mewafatkan mereka para ulama ahlussunnah.
 

Friday, October 9, 2015

Pumpkin Zeppole – You “Can” Do It

It may sound strange, but the only way to mess up this pumpkin zeppole, is by using a fresh pumpkin. Like virtually every other pumpkin dessert, I think using pure canned pumpkin will give you the best results. That really is the trick to this Halloween treat.

If you take a pumpkin, roast it, and scoop out the flesh, it may look similar to the canned stuff, but you’ll be surprised at how little sweetness and flavor it actually has. It sounds like a great way to go, but in reality, it is not. And what about “sugar pumpkins;” that smaller variety of pumpkin specially grown for cooking? They are definitely better, but still, it’s been my experience that even those don’t have as concentrated a flavor.

Like all things cooking, people will vehemently disagree with me, and claim they can achieve results that are just as good using fresh, but even so, that’s a lot of work for something that’s basically the same. Ultimately, you’ll have to decide.

By the way, if you can't get canned pumpkin, roasted butternut squash (just like we did for this soup) will work very nicely!

Special thanks to my old friend, Jennifer Perillo, for this recipe was adapted from one of hers. I’m not above stealing a recipe from total stranger, but it’s nice knowing the foundation for a recipe is coming from someone who actually knows what they’re doing. I hope you give these a try soon. Enjoy!


Ingredients for about 24-30 depending on the size:
1 1/2 cups all-purpose flour
1 1/2 teaspoons baking powder
1/2 teaspoon fine salt
1/2 teaspoon cinnamon
1/8 teaspoon freshly grated nutmeg
1 cup (8 ounces) fresh ricotta cheese, well-drained
1/2 cup plus 2 tablespoons pumpkin puree (or roasted butternut squash)
1/4 cup white sugars
2 large eggs
1 teaspoon vanilla extract
Canola oil for frying

Thursday, October 8, 2015

Tawasul Antara Sunnah, Bid’ah, dan Syirik



Redaksi Al Wala’ Wal Bara’ 
 
Do’a adalah seutama-utamanya pendekatan diri yang menghubungkan seorang hamba dengan penciptanya. Telah shahih hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda (yang artinya), "Doa adalah ibadah" (HR. Abu Dawud, disahihkan oleh Al Albany dalam Shahih Sunnan Abu Dawud) hal ini disebabkan karena pada diri orang yang berdoa terkumpul sifat kehinaan, ketundukan dan kebergantungan kepada Dzat yang di Tangan-Nya lah perbendaharaan segala sesuatu.
 
Dengan do’a yang kedudukannya seperti ini, Allah Azza Wajalla memerintahkan hamba-Nya untuk berdoa di setiap keadaan. Allah ta’ala berfirman "Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas" (Al A’raf:55). Kemudian Allah menjelaskan kepada mereka bahwa di antara sarana-sarana diharapkan doa tersebut diterima adalah berdo’a dengan nama-nama dan sifat Allah, sebagaimana Allah katakan (yang artinya): "Hanya milik Allah asmaulhusna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaulhusna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan." (Al A’raf : 180)

Maka disyariatkan bagi orang yang berdo’a untuk memulai do’anya dengan bertawasul (menjadikan perantara) dengan menyebut nama Allah dan sifat-Nya yang berkaitan dengan doa tersebut. Apabila seorang muslim menginginkan kasih sayang dan ampunan Allah maka dia berdoa kepada Allah dengan nama-Nya yaitu Ar Rahman dan Ar Rahim, Al Ghafur, Al Karim. Apabila dia menginginkan rizki, maka dia berdoa kepada Rabbnya dengan nama Ar Razzaq (Maha Pemberi Rizki), Al Mu’thi (Maha Pemberi), Al Jawwad (Maha Penderma), demikianlah seorang yang berdoa hendaklah dia berdoa dengan perantaraan nama-nama yang sesuai dengan hal yang dia inginkan, karena hal ini menjadi sebab diterimanya doa.

Tawasul Yang Disyariatkan (Sunnah)
 
Tawasul dalam berdoa ada beberapa macam, di antaranya ada tawasul yang disyariatkan, ada pula tawasul yang terlarang. Di antara tawasul yang yang disyariatkan adalah tawasul dengan amalan shaleh yang telah dilakukan oleh seorang hamba. Allah ta’ala berfirman (yang artinya): "Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman (yaitu): "Berimanlah kamu kepada Tuhan-mu", maka kami pun beriman. Ya Tuhan kami ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang berbakti" (Ali Imran :193).

Maka perhatikanlah bagaimana mereka bertawasul dengan keimanan terhadap Rabbnya Jalla Wa’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengisahkan kepada kita kisah tiga orang yang sedang berjalan, kemudian turunlah hujan lebat, sehingga mereka mencari tempat perlindungan di sebuah gua di bukit yang mereka daki, namun mereka terperangkap di depan pintu gua yang sangat kokoh sehingga mereka tidak bisa keluar darinya, merekapun berusaha untuk menyingkirkan batu tersebut akan tetapi mereka tidak mampu, akhirnya merekapun sepakat untuk berdoa kepada Allah Azza Wajalla dengan sebaik-baiknya amalan shaleh yang telah mereka kerjakan. Maka salah seorang diantara mereka bertawasul dengan perbuatan baktinya kepada orang tuanya, yang lain bertawasul dengan baiknya pengawasan dan penggunaan harta majikannya, dan yang lain dengan meninggalkan zina setelah zina itu memungkinkan baginya. Ketika salah seorang dari mereka berdoa maka tersingkirkanlah sedikit dari batu karang itu, akan tetapi mereka tetap tidak bisa keluar darinya, sampai lengkaplah ketiganya berdo’a yang akhirnya tersingkirlah batu karang tersebut dari depan pintu sehingga mereka bisa keluar darinya dengan leluasa. Maka disyariatkan bagi seorang muslim jika dia hendak berdo’a kepada Allah Azza Wajalla untuk bertawasul dengan amalan shaleh yang dia harapkan amalan itu ikhlas untuk Allah.

Di antara tawasul yang disyariatkan adalah memohon doa dari orang-orang shaleh yang masih hidup, hal ini karena seorang hamba berbeda-beda dalam kebaikannya, kedekatannya dan kedudukannya di sisi Allah. Oleh karena itu para sahabat begitu bersemangat meminta do’a kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan harapan diterima dan dikabulkan do’anya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata: "Saya mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda "Masuk ke dalam sorga dari umatku sekelompok orang yaitu 70 ribu orang, wajah-wajah mereka bercahaya layaknya bulan purnama", berdirilah Ukasyah bin Mihshon berkata "Do’akanlah aku wahai Rasulullah agar aku termasuk di antara mereka", beliau bersabda "Ya Allah jadikanlah dia diantara mereka" (HR.Bukhari dan Muslim).

Di antara tawasul yang disyariatkan adalah menyebutkan kelemahan dan sangat butuhnya orang yang berdoa kepada Allah. Seperti mengatakan "Ya Allah sesungguhnya aku sangat butuh kepada-Mu, aku adalah tawanan-Mu, sanagat mengharapkan ampunan-Mu, pengharapanku dari-Mu terhadap rahmat dari sisi-Mu". Adapun dalil bahwa contoh semacam ini adalah termasuk tawasul yang disyariatkan adalah doa Dzakaria ‘alaihi salam (yang artinya), "Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Tuhanku. Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang istriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putra" (Maryam:4-5) dan di antaranya juga perkataan Musa ‘alaihi salam "Ya Tuhanku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku". (Alqashash:24)

Maka ini adalah sebagian dari macam-macam tawasul yang disyariatkan yang semestinya seorang muslim untuk bersemangat kepadanya, dan membuka do’a dengannya sebagai wujud permintaan kepada Allah untuk ditunaikan hajatnya.

Tawasul Bid’ah dan Syirik
 
Kemudian ada beberapa macam tawasul yang dilakukan oleh sebagian manusia, di antaranya ada yang mencapai batas bid’ah, dan syirik dengan anggapan bahwa yang mereka perbuat adalah perbuatan taqarub kepada Allah. Sesungguhnya mereka tidak mengerti bahwa perbuatan taqarub kepada-Nya hanyalah dengan sesuatu yang disyari’atkan bukan dengan hawa nafsu dan kebid’ahan.

Di antara macam tawasul yang bid’ah adalah meminta do’a dari orang yang telah mati,seperti datang kepada mayit yang dikubur padahal dia sendiri tidak dapat mendatangkan manfaat ataupun madharat terhdap dirinya sendiri, kemudian orang tersebut minta darinya agar dia mendo’akan kepada Allah baginya dalam suatu perkara seperti kesembuhan dari sakitnya. Dalil tentang bid’ahnya tawasul ini adalah tertolaknya dalil yang membolehkannya, padahal ibadah hanyalah diperbuat dengan ittiba (mengikuti dalil) bukan dengan ibtida’ (membuat bid’ah). Hal lain yang menunjukan bid’ahnya tawasul ini adalah para shahabat yang mereka itu sangat banyak ilmunya dan paling keras dalam mengambil contoh terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, mereka sedikitpun tidak pernah mengamalkan amalan ini. Kalau seandainya amalan ini baik niscaya mereka lebih dulu dalam mengamalkannya, sampai Umar radhiyallahu anhu ketika terjadi masa kekeringan di Madinah, beliau mendatangi Abbas paman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam agar dia mendoa’kan kepada Allah agar mendurunkan hujan, tidaklah Umar meminta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di kuburannya karena Umar tahu tentang terlaranagnya hal tersebut.
 
Adapun yang termasuk tawasul yang diada-adakan manusia dan ini termasuk katagori syirik adalah meminta kepada orang mati untuk dihilangkannya kesempitan dan dipenuhi segala kebutuhannya. Siapa saja mayit itu baik seorang yang shaleh, nabi ataupun para rasul. Hal ini karena doa adalah ibadah dan ibadah itu tidak boleh diperuntukkan kecuali untuk Allah ta’ala. Maka berdoa kepada selain Allah adalah syririk dan menghinakan. Allah berfirman (yang artinya), "Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina" (Ghafir:60).
 
Kemudian Allah pun memerintahkan agar do’a itu hanya bagi-Nya dan mengkaitkan jawaban atas doa itu dengan keikhlasan kepada-Nya "Hanya bagi Allah-lah (hak mengabulkan) doa yang benar. Dan berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memperkenankan sesuatu pun bagi mereka, melainkan seperti orang yang membukakan kedua telapak tangannya ke dalam air supaya sampai air ke mulutnya, padahal air itu tidak dapat sampai ke mulutnya. Dan doa (ibadah) orang-orang kafir itu, hanyalah sia-sia belaka." dan juga firman-Nya: "Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian) itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang lalim".(Yunus 106)
 
Maka ini adalah macam-macam tawasul dalam do’a dan hukum-hukumnya, semestinya bagi setiap muslim untuk lebih bersemangat terhadap parkara yang disyariatkan, dan bersungguh-sungguh dalam berdo’a kepada Allah dalam segala keadaan, sampai Allah tahu jujurnya kefaqiran dia terhadap-Nya sehingga Allah mengabulkan do’anya dan menolongnya. Dan bagi setiap muslim juga wajib untuk menjauhkan diri dari tawasul yang bid’ah, dan supaya menjauhkan diri sejauh-jauhnya dari tawasul yang syirik, kalau hal itu sangat berbahaya terhadap agama dan aqidah seorang muslim. Kami minta kepada Allah agar menjadikan kita termasuk orang yang mendengar ucapan ini kemdian mengikuti yang terbaik darinya. Sesungguhnya segala puji hanya untuk Allah.

Judul Asli:
Tawasul (Menjadikan Perantara dalam Ibadah) Antara Sunnah, Bid’ah, dan Syirik
 
Sumber: Buletin Al Wala’ Wal Bara’ Bandung

Tabligh Akbar Ust Aunur Rofiq Ghufron, Lc Pinrang Sulawesi Selatan 4-5 Muharram 1437 H/17-18 Oktober 2015


Untuk semua Muslimin dan muslimah 

HADIRILAH

“TABLIGH AKBAR”
Ahlussunnah Waljamaah
BERSAMA


“Ustadz Aunur Rofiq Ghufron, Lc”

SESI PERTAMA
Hari : Sabtu,  17 Oktober 2015
Waktu : Pukul 15.30 s/d Selesai (ba'da Ashar)

Tempat : Masjid Raya Simpang Lima Pinrang Sulawesi Selatan 
MATERI
“Membangun Surga Dalam Rumah Tangga”
Peserta : Ikhwan Dan Akhwat




SESI KEDUA

Hari : Sabtu,  17 Oktober 2015
Waktu : Pukul 19.30 s/d Selesai (ba'da Isya)

Tempat : Masjid Mawaddah Palia (Belakang Tudda Motor) Pinrang Sulawesi Selatan 
MATERI
“Indahnya Persatuan dan Buruknya Perpecahan”
Peserta : Ikhwan Dan Akhwat





SESI UTAMA
Hari : Ahad,  18 Oktober 2015
Waktu : Pukul 09.00 s/d Selesai
Tempat : Masjid Al-Munawir Pinrang JL. Bintang No.1 Pinrang Sulawesi Selatan
MATERI

Menjadi Rakyat yang Bijak

(Bagaimana Hubungan antara Pemerintah dan Rakyat Sesuai Al Qur.an dan Sunnah Rasulullah)
Peserta : Ikhwan Dan Akhwat 

Free 

Tuesday, October 6, 2015

Crab Rangoon – Rhymes with Swoon

Many people are surprised when they find out that crab rangoons are about as Asian as Buffalo chicken wings, but it’s true. Even though they’re commonly found on Chinese and Thai menus, they were actually invented in San Francisco, at Trader Vic’s, in 1956.

While not “authentic,” these crispy crab and cream cheese wontons are one of the most addictive, delicious, and crowd-pleasing appetizers ever created. That is, if the filling has enough crab in it. Most of the restaurant versions I’ve had are probably 3 or 4 parts cream cheese, to 1 part crab, but here we’re using a 1 to 1 ratio, and the results are amazing.

Besides being generous with the crab (or lobster, or chicken), the other critical factor is the “warhead” fold. Even though you can fold these over once to make a simple triangle, I highly recommend using the method shown herein.

The “turnover” fold is easier, but you don’t get nearly as much crispy goodness, and that’s what makes these so great. It’s that contrast between the warm creamy center, and those four crunchy edges that makes this such a magical bite I really hope you give them a try soon. Enjoy!


Ingredients for about 60 Crab Rangoons:
8 ounces cream cheese
8 ounces crab meat, drained well
1 clove crushed garlic
1/3 cup chopped green onions
1 teaspoons soy sauce
1/2 teaspoon fish sauce
1/2 teaspoon Worcestershire sauce
1/4 teaspoon sesame oil
1/2 teaspoon salt, or to taste
1/2 teaspoon freshly ground black pepper
pinch cayenne
60 square wonton wrappers
canola oil for deep-frying

For the sauce:
(Note: I only made a half batch in the video. This should easily be enough for 60 rangoons)
1 cup ketchup
1/4 rice vinegar
2 tablespoons brown sugar
1 tablespoon sriracha hot sauce, or to taste

Kenikmatan Melihat Allah




Al Ustadz Abu Hamzah Yusuf Al Atsary
 
Satu kenikmatan dan kebahagiaan yang akan dirasakan kaum mu’minin tatkala menghadap Rabbnya di hari akhirat dalam keadaan beriman, sebaliknya sungguh malapetaka, kebingungan yang luar biasa serta penyesalan yang sangat mendalam dirasakan orang-orang kafir di hari itu. Allah menggambarkan keadaan mereka dalam firmanNya (yang artinya), "Dan wajah-wajah (orang kafir) pada hari itu muram, mereka yakin bahwa akan ditimpakan kepadanya malapetaka yang amat dahsyat." (QS Al Qiyamah: 24-25).
 
Orang-orang yang beriman yakin betul dengan firman Allah (yang artinya), "Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadat kepada Tuhannya." (QS Al Kahfi: 110).
 
Sehingga Allah menggambarkan keadaan mereka di akhirat dengan firmanNya (yang artinya), "Wajah-wajah (orang-orang mu’min) pada hari itu berseri-seri, kepada Tuhannyalah mereka melihat." (QS Al Qiyaamah: 22-23).

Para pembaca, tentang dapat melihatnya orang-orang mu’min kepada sang penciptanya, Dzat yang Maha Besar Allah subhanahu wa ta’ala di akhirat adalah perkara yang menyangkut masalah aqidah, betapa tidak, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, "Yang menjadi kesepakatan para salaf, bahwa barangsiapa yang mengingkari ru’yatullah (melihat Allah) di akhirat ia telah kafir." Kemudian beliau menukil pernyataan Imam Ahmad, "Siapa yang mengira bahwa Allah tidak dapat dilihat (secara mutlak -pent.) ia telah kafir dan mendustakan al Qur’an, dikembalikan urusannya kepada Allah, diterima taubatnya bila ia bertaubat, bila tidak maka diperangi / dibunuh!" (Dari Majmu’ul Fatawa: 6/486 dan 500).
 
Adakah golongan yang menolak ru’yatullah secara mutlak? Karya-karya para ulama terdahulu menjadi saksi akan keberadaan golongan ini, kitab-kitab mereka dipenuhi dengan bantahan-bantahan atasnya, sehingga masalah ini (ru’yatullah) adalah masalah prinsip yang membedakan antara aqidah Islam dan aqidah yang tidak berasal dari Islam, muncul sejumlah nama besar para penentang ru’yatullah seperti al Jahm bin Shofwan as Samarkondy dengan gerakan Jahmiyahnya, Amr bin Ubaid, dan Washil bin Atho’ al Fazaary dengan gerakan Mu’tazilahnya serta golongan al Imamiyah dan az Zaidiyah dari kelompok Syi’ah, mereka memelintir nash-nash yang berkaitan dengan ru’yatullah, berusaha mempreteli dan menjauhkan umat dari aqidah yang benar, bukan hanya mereka yang tengah berusaha menyimpangkan umat, tetapi juga muncul dari kelompok suluk kaum sufi yang beranggapan bahwa Allah dapat dilihat di dunia dan di akhirat, bahkan sebagian dari mereka kelompok hululiyah menyatakan bahwa Dzat Allah dapat bersatu dengan makhlukNya, juga al Ittihadiyyah yang mengatakan bahwa makhluk adalah Allah, dan Allah adalah makhluk, wal ‘iyaadzu billah.
 
Para pembaca, sejumlah golongan sesat itu, meski para tokoh dan nama gerakannya telah tiada - seperti al Jahm bin Shofwan yang telah berhasil dibunuh Salim bin Ahwaz di Irak pada tahun 121 H - tetapi pemikiran dan keyakinannya telah menyebar luas hingga generasi kita, perubahan nama tidaklah merubah hakikatnya, berhati-hatilah!
 
Telah sepakat para salaf tentang penetapan melihat Allah dengan mata di akhirat bagi orang-orang yang beriman serta peniadaan dari melihatNya di dunia. Allah berfirman (yang artinya), "Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya." (QS Yunus: 26). Yang dimaksud "tambahannya" ialah melihat wajahNya (Allah) yang mulia, sebagaimana penafsiran sejumlah para sahabat di antaranya, Abu Bakar ash Shiddiq, Hudzaifah ibnul Yaman, Abdullah ibnu Abbas, Sa’id ibnul Musayyab, dan yang lainnya. (Lihat Tafsirul Qur’anil Azhim: 4/435).
 
Demikian pula Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menafsirkan beliau bersabda, "Apabila ahli surga telah memasuki surga, Allah berkata pada mereka, "Apakah kalian mau Aku tambahkan sesuatu?" Ahli surga menjawab , "Bukankah Engkau telah menjadikan wajah-wajah kami putih? Bukankah Engkau telah memasukkan kami ke surga dan menyelamatkan kami dari neraka?" Rosulullah berkata, "(Maka Allah membuka hijab/ penghalang, maka tidak ada sesuatu pun yang telah diberikan pada mereka (penghuni surga) yang paling mereka senangi daripada melihat kepada Rabbnya Azza wa Jalla." (HR Muslim -Kitabul Iman dari Suhaib radhiyallahu ‘anhu).
 
Allah juga berfirman (yang artinya), "Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) tuhan mereka." (QS Al Muthaffifiin: 15). Berkata Imam Syafi’i rahimahullah, "Maka, ketika Allah subhanahu wa ta’ala dengan kebencianNya menghalangi mereka (orang-0orang kafir) dari melihatNya, ini berarti dalil bahwa mereka (para wali Allah, orang-orang mu’min) melihatNya dengan keridhoanNya." (Syarh Ushulul I’tiqaad: 3/506).
 
Teramat banyak hadits-hadits yang memuat tentang orang mu’min melihat Allah di akhirat, bahkan dikategorikan sebagai hadits yang mutawatir oleh Ibnu Hajar al Atsqolaaniy dan lainnya, kami sebutkan di antaranya. "Orang-orang bertanya kepada Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Wahai Rosulullah, apakah kita akan melihat Rabb kita pada hari kiamat?’ Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘Apakah kalian terhalangi dari melihat bulan pada malam purnama?’ Mereka menjawab, ‘Tidak, wahai Rosulullah.’ Beliau berkata lagi, ‘Apakah kalian terhalangi dari melihat matahari yang tak ada awan di bawahnya?’ Mereka menjawab, ‘Tidak.’ Kemudian Rosulullah berkata, ‘Sesungguhnya kalian akan melihatnya (yakni Rabb) seperti itu (yakni jelas tanpa ada penghalang).’" (HR Bukhori -Kitabut Tauhid- dan Muslim -Kitabul Iman-, dari sahabat Abu Hurairoh).
 
Ibnul Qoyyim berkata, "Al Qur’an dan Sunnah yang mutawatir, serta ijma / kesepakatan para sahabat dan para ulama Islam serta ahli hadits menunjukkan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala dapat dilihat pada hari kiamat dengan mata secara nyata, seperti halnya bulan, dapat dilihat dengan jelas pada malam purnama yang cerah dan seperti halnya matahari dapat dilihat dengan jelas di siang hari." (lihat Haadii al Arwaah).
 
Demikianlah para pembaca, semoga kita tergolong kepada orang-orang yang mendapat nikmat melihat wajah Allah subhanahu wa ta’ala di surga dan semoga kita disatukan untuk itu. Amiin ya Mujiibassaailiin. Wal ‘ilmu ‘indallah.
 
Sumber: Buletin Al Wala’ Wal Bara’ Bandung

Sunday, October 4, 2015

Mungkinkah Memandang Wajah Allah Ta’ala ?



Al Ustadz Muhammad Umar As Sewed
 
Bertemu dengan Allah Subhanahu Wata’ala dan memandang wajah-Nya kelak pada hari kiamat adalah merupakan sebuah kenikmatan yang tak terhingga besarnya. Oleh karena itu setiap orang yang beriman pasti akan sangat merindukan pertemuan dengan Allah dan memandang wajah-Nya. Untuk mencapai hal itulah mereka harus berusaha menjalani syarat-syarat yang telah Allah tetapkan dalam al-Qur’an yaitu mengerjakan amalan-amalan shalih dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman (yang artinya): Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabb-nya, maka hendaklah ia mengerjakan amal shalih dan janganlah ia mempersekutukan-Nya dalam beribadah kepada Rabb-nya. (al-Kahfi: 110)
Demikianlah, pertemuan dengan Allah kelak adalah satu hal yang harus diimani oleh setiap muslim. Namun yang sangat mengherankan, muncul orang-orang yang mengaku muslimin, tetapi mereka mengingkari pertemuan dengan Allah Subhanahu Wata’ala dan mengingkari akan dapat dilihatnya wajah Allah pada hari kiamat dengan melakukan ta’wil-ta’wil yang batil terhadap ayat-ayat dan hadits-hadits. Ini menunjukkan kalau mereka sama sekali tidak berharap bertemu Allah.

Adapun bagi ahlus sunnah wal jama’ah -pengikut para shahabat dan tabi’in dan atba’ut tabi’in-, mereka adalah orang-orang yang sangat meyakini akan adanya pertemuan dengan Allah dan berharap untuk diberikan kesempatan melihat wajah-Nya.

Bukan hanya itu, bahkan sesungguhnya seluruh manusia kelak akan sangat mengharapkan untuk mendapatkan kesempatan memandang wajah Allah, karena hal itu merupakan satu kenikmatan. Namun orang-orang kafir akan terhalang untuk memandang wajah Allah, karena kekufuran mereka ketika masih hidup di dunia.

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman (yang artinya): Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar tertutup dari Rabb mereka. (al-Muthaffifin: 15)

Berkata Imam Syafi’i Rahimahullah: Ketika mereka (orang-orang kafir –pent.) terhalang dari Allah karena kemurkaan-Nya, maka ini merupakan dalil bahwa wali-wali yang dicintai-Nya akan melihat-Nya dalam keridlaan. (Syarh Aqidatu ath-Thahawiyah, Ibnu Abil ‘Izzi, hal. 191)

DALIL DALIL TENTANG AKAN DILIHATNYA WAJAH ALLAH
 
Dalil-dalil yang menunjukkan akan dilihatnya wajah Allah oleh kaum mukminin di akhirat selain ayat-ayat di atas sangat banyak. Di antaranya:

(1) Firman Allah Subhanahu Wata’ala: Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya. Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya. (Yunus: 26)

Yang dimaksud dengan “tambahan” pada ayat di atas adalah memandang wajah Allah sebagaimana disebutkan dalam satu riwayat dari Shuhaib Radhiyallahu ‘Anhu ketika menafsirkan ayat di atas Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda (yang artinya): Kemudian ketika penghuni surga telah masuk surga, Allah tabaraka wa ta’ala berfirman: “Apakah kalian menginginkan sesuatu tambahan?” Mereka menjawab: “Bukankan engkau telah memutihkan wajah-wajah kami, bukankah engkau telah memasukkan kami ke dalam surga dan Kau selamatkan kami dari api neraka?” Kemudian Allah menyingkapkan hijabnya, maka tidak ada pemberian yang lebih mereka sukai daripada memandang wajah Allah Azza wa Jalla. (HR. Muslim)
 
(2) Demikian pula dalam surat al-Qiyamah, Allah sebutkan lebih tegas lagi tentang orang-orang yang beriman dengan wajah yang berseri-seri memandang wajah Allah (yang artinya): Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Rabb-nyalah mereka melihat. (al-Qiyamah: 22-23)

Ayat ini dengan jelas sekali menunjukkan akan dilihatnya Allah. Namun, mereka yang menolak akan dapat dilihatnya Allah pada hari kiamat berkilah bahwa kata “nadhara” belum tentu bermakna “melihat”, tapi bisa juga mempunyai makna lain yaitu “menunggu”, “tafakkur” dan lain-lain. Bantahan terhadap mereka adalah bahwa memang kata “nadhara” dapat memiliki beberapa makna, tetapi kita dapat mengetahui makna yang dimaksud dengan memperhatikan “huruf bantu”nya.
  1. Jika kata “nadhara” disebutkan tanpa huruf bantu, maka bermakna “menunggu”. Seperti ayat Allah (yang artinya): …Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebahagian dari cahaya-mu… (al-Hadiid: 13)
  2. Jika kata “nadhara” disebutkan dengan huruf bantu “fie”, maka bermakna tafakkur dan mengambil pelajaran. Seperti dalam firman-Nya (yang artinya): Apakah mereka tidak memperhatikan/tafakkur terhadap kerajaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang diciptakan Allah…? (al-A’raaf: 185)
  3. Adapun jika kata “nadhara” disebutkan dengan huruf bantu “ila”, maka maknanya adalah “melihat dengan mata”. Seperti ayat Allah: Lihatlah kepada buah-buahan di waktu pohonnya telah berbuah… (al-An’aam: 99)
Oleh karena itu dalam ayat di atas (surat al-Qiyamah), Allah Subhanahu Wata’ala dengan jelas mengatakan “ila rabbiha nadhirah”, yang berarti kata “nadhara” disebutkan dengan huruf bantu “ila” dan bermakna “melihat dengan mata kepala”.
 
Apalagi disebutkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala pelaku dari pekerjaan melihat di atas adalah “wajah-wajah mereka”. Maka tidak tepat kalau diartikan “wajah mereka menunggu” atau “wajah mereka bertafakkur”. Yang tepat adalah “wajah mereka melihat”, karena kemana mata memandang ke sana pulalah wajah menghadap. (Penjelasan lebih lengkap, baca Syarh Aqidah ath-Thahawiyah, Ibnu Abil ‘Izzi, hal. 189-190)

Ini adalah bantahan buat mereka yang menyelewengkan makna nadhara pada makna-makna lain yang sama sekali tidak berkaitan dengan lafadhnya, bahkan keluar dari kaidah bahasa arab. Takwil-takwil mereka yang rusak inilah yang telah menghancurkan agama dan dunia.

Berkata Ibnu Abil ‘Izzi: “Ta’wil yang merusak inilah yang telah menghancurkan dunia. Bahkan ini pulalah yang telah dilakukan oleh kaum Yahudi dan Nashrani terhadap kitab-kitab mereka Taurat dan Injil. Dan Allah telah memperingatkan kita untuk jangan meniru mereka”.

Beliau juga berkata: “Dan tidaklah memberontak kaum khawarij, tidaklah memisahkan diri kaum mu’tazilah, tidaklah rafidlah menjadi penentang, dan tidak pula berpecah umat menjadi 73 golongan kecuali karena ta’wil-ta’wil yang rusak tersebut”. (Syarh Aqidah ath-Thahawiyah, Ibnu Abil ‘Izzi, hal. 189)

(3) Dalam riwayat lainnya dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu  disebutkan: Sesungguhnya manusia telah bertanya kepada Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam: “Wahai Rasulullah! Adakah kami dapat melihat Rabb kami pada Hari Kiamat?” Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam menjawab: “Adakah yang memudharatkan kalian jika kalian melihat bulan pada malam purnama”? Mereka menjawab: “Tidak, wahai Rasulullah!” Beliau bertanya lagi kepada mereka: “Adakah yang memudharatkan kalian jika kalian melihat matahari yang tidak dilindungi awan?” Mereka menjawab: “Tidak wahai Rasulullah!” Kemudian beliau Sholallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Begitu juga kalian akan melihat-Nya…” (HR. Bukhari Muslim)

(4) Dalam riwayat lainnya dari shahabat Jarir bin Abdullah Radhiyallahu ‘Anhu: Ketika kami sedang duduk di samping Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam, tiba-tiba beliau memandang bulan purnama, seraya bersabda: “Sesungguhnya kalian akan dapat melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan purnama ini, dan kalian tidak berdesak-desakkan ketika melihat-Nya. Maka jika kalian mampu, janganlah kalian lalai untuk melakukan shalat sebelum terbit Matahari dan sebelum terbenam Matahari, yaitu shalat Asar dan Subuh”. Kemudian Jarir membaca firman Allah “Dan bertasbihlah dengan memuji Rabb-mu sebelum terbit dan terbenam matahari”. (HR. Bukhari Muslim)

Yang diserupakan dalam hadits diatas adalah cara mereka yang mudah dan tidak berdesak-desakkan, bukan menyerupakan Allah dengan bulan. Berkata Imam Abu Utsman ash-Shabuni: Yang diserupakan dalam hadits ini adalah “cara melihat” dengan “cara melihat”, bukan “yang dilihat” dengan yang dilihat. (Aqidatus Salaf Ashabul Hadits, tahqiq Abul Yamin al-Manshuri, hal. 76)
 
Ibnu Abil ‘Izzi berkata dalam Syarh Aqidatu ath-Thahawiyah bahwa hadits-hadits tentang dilihatnya Allah pada hari kiamat telah diriwayatkan dari sekitar 30 orang shahabat. Barangsiapa yang meneliti seluruhnya, maka dia akan yakin bahwa Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam benar-benar telah mengatakannya. (Syarh Aqidah ath-Thahawiyah, Ibnu Abil ‘Izzi, hal. 189)

Dikutip dari Bulletin Dakwah Manhaj Salaf

Friday, October 2, 2015

Easy English Muffins – A Model of Buttery Deliciousness

I don’t watch a lot of food television, but every once and a while I’ll catch a show where celebrity chefs sit around describing the best things they ever ate, and this English muffin was inspired by one served at the Model Bakery, in Napa, CA.

These muffins were fried in clarified butter, and looked (and sounded) absolutely amazing. I didn’t actually use their recipe, since I wanted to experiment with a simpler, faster method; but if it makes you feel any better, I did cook them in clarified butter.

Speaking of which, I’ve never done a video for clarified butter, but you don’t need one, since all we do is melt some unsalted butter (the only kind I ever use), and once it’s melted, take a spoon and skim off the white, foamy milk solids from the top. That’s it. Once clarified, you can use it without fear of the butter burning from high temps, or long cooking times.

If you want, you could just briefly brown each side and finish these in an oven until cooked through, but I did mine all the way in the pan, a la Model Bakery, and it worked out fine. They took about 7 to 8 minutes per side, and really took on a great buttery flavor.

Over the years, I’ve tried several different methods, including the traditional batter cooked in ring molds system, but I think this technique is much easier, and produces something very close to a classic English muffin. I hope you give these a try soon. Enjoy!


Makes 6 English Muffins (recipe can easily be doubled):

- First mix:
1 1/2 tsp dry active yeast
1/4 cup all-purpose flour
1/2 cup warm water
- Wait 15 minutes to see if yeast is alive, then add:
2 tsp vegetable oil
1 teaspoon kosher salt
1 egg white
1 3/4 cups all-purpose flour
1/4 cup warm water
- Mix dough and let double
- Form 6 seamless balls of dough, press on to a lined baking pan, coating both sides  with non-hipster corn meal.
- Allow to double in size and fry in clarified butter for about 7-8 minutes per side, or until cooked through. Let cool before splitting!

Shodaqollahul ‘Adzim Setelah Membaca Al Qur’an



Al Ustadz Abu Hamzah Yusuf Al Atsari 
 
Dasar agama Islam ialah hanya beramal dengan Kitabullah dan Sunnah rasulNya. Keduanya adalah sebagai marja’ -rujukan- setiap perselisihan yang ada di tengah-tengah kaum muslimin. Siapa yang tidak mengembalikan kepada keduanya maka dia bukan seorang mukmin. Allah berfirman (yang artinya), "Maka demi Rabmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya." (QS An Nisa : 65).
 
Telah mafhum bersama bahwa Allah menciptakan manusia bukan untuk suatu urusan yang sia-sia, tetapi untuk satu tujuan agung yang kemaslahatannya kembali kepada manusia yaitu agar beribadah kepadaNya. Kemudian tidak hanya itu saja, tetapi Allah juga mengutus rasulNya untuk menerangkan kepada manusia jalan yang lurus dan memberikan hidayah -dengan izin Allah- kepada shirothil azizil hamid. Allah berfirman (yang artinya), "Dan Kami tidak menurunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman." (QS An Nahl : 64).
 
Sungguh, betapa besar rahmat Allah kepada kita, dengan diutusnya Rasulullah, Allah telah menyempurnakan agama ini. Allah telah berfirman (yang artinya), "Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu ni’matKu dan telah Kuridhoi islam itu jadi agama bagimu" (QS Al Maidah : 3).
 
Tak ada satu syariatpun yang Allah syariatkan kepada kita melainkan telah disampaikan oleh rasulNya. Aisyah berkata kepada Masyruq, "Siapa yang mengatakan kepadamu bahwa Muhammad itu telah menyembunyikan sesuatu yang Allah telah turunkan padanya, maka sungguh ia talah berdusta!" (HR. Bukhori Muslim).
 
Berkata Al Imam As Syatibi, "Tidaklah Nabi meninggal kecuali beliau telah menyampaikan seluruh apa yang dibutuhkan dari urusan dien dan dunia"
 
Berkata Ibnu Majisyun, "Aku telah mendengar Malik berkata, "Barangsiapa yang membuat bid’ah (perkara baru dalam Islam), kemudian menganggapnya baik, maka sungguh dia telah mengira bahwa Muhammad telah mengkhianati risalah, karena Allah telah berfirman, "Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu" (QS Al Maidah : 3).
 
Kaum muslimin -rahimakumullah-, sahabat Ibnu Mas’ud telah berkata, "Ikutilah, dan jangan kalian membuat perkara baru!". Suatu peringatan tegas dimana kita tidak perlu untuk menambah-nambah sesuatu yang baru atau bahkan mengurangi sesuatu dalam hal agama. Banyak ide atau atau anggapan-anggapan baik dalam agama yang tidak ada contohnya bukanlah perbuatan terpuji yang akan mendatangkan pahala, tetapi justru yang demikian itu berarti menganggap kurang atas syariat yang telah dibawa oleh Rasulullah, dan bahkan yang demikian itu dianggap telah membuat syariat baru. Seperti perkataan Iman Syafi’i, "Siapa yang membuat anggapan-anggapan baik dalam agama sungguh ia telah membuat syariat baru."
 
Ucapan "shodaqollahul adhim" setelah membaca Al Quran atau satu ayat darinya bukanlah hal yang asing di kalangan kita kaum muslimin -sangat disayangkan-. Dari anak kecil sampai orang tua, pria atau wanita sudah biasa mengucapkan itu. Tak ketinggalan pula -sayangnya- para qori Al Quran dan para khotib di mimbar-mimbar juga mengucapkannya bila selesai membaca satu atau dua ayat AlQuran. Ada apa memangnya dengan kalimat itu ?
 
Kaum muslimin -rahimakumullah-, mengucapkan "shodaqollahul adhim" setelah selasai membaca Al Quran baik satu ayat atau lebih adalah bid’ah, perhatikanlah keterangan- keterangan berikut ini.
 
Pertama: Dalam shahih Bukhori no. 4582 dan shahih Muslim no. 800, dari hadits Abdullah bin Mas’ud berkata, "Berkata Nabi kepadaku, "Bacakanlah padaku." Aku berkata, "Wahai Rasulullah, apakah aku bacakan kepadamu sedangkan kepadamu telah diturunkan?" beliau menjawab, "ya". Maka aku membaca surat An Nisa hingga ayat "Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu)." (QS An Nisa : 41) beliau berkata, "cukup". Lalu aku (Ibnu Masud) menengok kepadanya ternyata kedua mata beliau berkaca-kaca."
 
Sahabat Ibnu Mas’ud dalam hadits ini tidak menyatakan "shodaqollahul adhim" setelah membaca surat An Nisa tadi. Dan tidak pula Nabi memerintahkannya untuk menyatakan "shodaqollahul adhim", beliau hanya mengatakan kepada Ibnu Mas’ud "cukup".
 
Kedua: Diriwayatkan oleh Bukhori dalam shahihnya no. 6 dan Muslim no. 2308 dari sahabat Ibnu Abbas beliau berkata, "Adalah Rasulullah orang yang paling giat dan beliau lebih giat lagi di bulan ramadhan, sampai saat Jibril menemuinya -Jibril selalu menemuinya tiap malam di Bulan Ramadhan- bertadarus Al Quran bersamanya".
 
Tidak dinukil satu kata pun bahwa Jibril atau Nabi Muhammad ketika selesai qiroatul Quran mengucapkan "shodaqollahul adhim".
 
Ketiga: Diriwayatkan oleh Bukhori dalam shahihnya no. 3809 dan Muslim no. 799 dari hadits Anas bin Malik -radhiyallahu anhuma-, "Nabi berkata kepada Ubay, "Sesungguhnya Allah menyuruhku untuk membacakan kepadamu "lam yakunil ladzina kafaru min ahlil kitab" ("Orang-orang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya)") (QS Al Bayyinah : 1). Ubay berkata , "menyebutku?" Nabi menjawab, "ya", maka Ubay pun menangis".
 
Nabi tidak mengucapkan "shodaqollahul adhim" setelah membaca ayat itu.
 
Keempat: Diriwayatkan oleh Bukhori dalam shahihnya no. 4474 dari hadits Raafi’ bin Al Ma’la -radhiyallahu anhuma- bahwa Nabi bersabda, "Maukah engkau kuajari surat yang paling agung dalam Al Quran sebelum aku pergi ke masjid?" Kemudian beliau (Nabi) pergi ke masjid, lalu aku mengingatkannya dan beliau berkata, "Alhamdulillah, ia (surat yang agung itu) adalah As Sab’ul Matsaani dan Al Quranul Adhim yang telah diberikan kepadaku."
 
Beliau tidak mengatakan "shodaqollahul adhim".
 
Kelima: Terdapat dalam Sunan Abi Daud no. 1400 dan Sunan At Tirmidzi no. 2893 dari hadits Abi Hurairah dari Nabi, beliau bersabda, "Ada satu surat dari Al Quran banyaknya 30 ayat akan memberikan syafaat bagi pemiliknya -yang membacanya/ mengahafalnya- hingga ia akan diampuni, "tabaarokalladzii biyadihil mulk" ("Maha Suci Allah yang ditanganNyalah segala kerajaan") (QS Al Mulk : 1).
 
Nabi tidak mengucapkan "shodaqollahul adhim" setelah membacanya.
 
Keenam: Dalam Shahih Bukhori no. 4952 dan Muslim no. 494 dari hadits Baro’ bin ‘Ajib berkata, "Aku mendengar Rasulullah membaca di waktu Isya dengan "attiini waz zaituun", aku tidak pernah mendengar seorangpun yang lebih indah suaranya darinya".
 
Dan beliau tidak mengatakan setelahnya "shodaqollahul adhim".
 
Ketujuh: Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya no. 873 dari hadits Ibnat Haritsah bin An Nu’man berkata, "Aku tidak mengetahui/hafal "qaaf wal qur’aanil majiid" kecuali dari lisan rasulullah, beliau berkhutbah dengannya pada setiap Jumat".
 
Tidak dinukil beliau mengucapkan setelahnya "shodaqollahul adhim" dan tidak dinukil pula ia (Ibnat Haritsah) saat membaca surat "qaaf" mengucapkan "shodaqollahul adhim".
 
Jika kita mau menghitung surat dan ayat-ayat yang dibaca oleh Rasulullah dan para sahabatnya serta para tabiin dari generasi terbaik umat ini, dan nukilan bahwa tak ada satu orangpun dari mereka yang mengucapkan "shodaqollahul adhim" setelah membacanya maka akan sangat banyak dan panjang. Namun cukuplah apa yang kami nukilkan dari mereka yang menunjukkan bahwa mengucapkan "shodaqollahul adhim" setelah membaca Al Quran atau satu ayat darinya adalah bid’ah -perkara yang baru- yang tidak pernah ada dan di dahului oleh generasi pertama.
 
Kaum muslimin -rahimakumullah-, satu hal lagi yang perlu dan penting untuk diperhatikan bahwa meskipun ucapan "shodaqollahul adhim" setelah qiroatul Quran adalah bid’ah, namun kita wajib meyakini dalam hati perihal maknanya bahwa Allah maha benar dengan seluruh firmannya, Allah berfirman, "Dan siapa lagi yang lebih baik perkataanya daripada Allah", dan Allah berfirman, "Dan siapa lagi yang lebih baik perkataanya dari pada Allah". Barangsiapa yang mendustakanya -firman Allah- maka ia kafir atau munafiq.
 
Semoga Allah senantiasa mengokohkan kita diatas Al Kitab dan Sunnah dan Istiqomah diatasnya. Wal ilmu indallah.
 

Sumber: Buletin Al Wala’ Wal Bara’ Bandung

Thursday, October 1, 2015

Al Imam Malik Bin Anas


Abu Afiifah
Dahulu kala tepatnya tahun 93 H di kota Madinah lahir seorang anak yang di kemudian hari dikenal dengan sebutan Imam Malik.
Kunyah beliau Abu Abdillah, dan nama lengkap beliau Malik bin Anas bin Malik bin Abu ‘Amir bin ‘Amr bin Al Harits bin Ghaiman bin Khutsail bin ‘Amr bin Al Harits Al Himyari Al Ashbahi Al Madani. Beliau diberi gelar Syaikhul Islam, Hujjatul Ummah, Mufti Al Haramain (Mufti dua tanah suci) dan Imam Daarul Hijrah.

Pada tahun yang sama wafat shahabat Nabi Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu, pelayan Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam.
Ayah beliau, Anas adalah seorang ulama besar dari kalangan Tabi’in. Ibu beliau bernama ‘Aliyah bintu Syariik Al Adziyyah. Paman-paman beliau bernama Abu Suhail Nafi’, Uwais, Ar Rabi’, An Nadhar, semuanya putra Abu ‘Amr.

Imam Malik tumbuh dalam suasana yang penuh pengawasan dan perhatian kedua orang tuanya, serba berkecukupan, dan beliau memiliki ketabahan hati yang luar biasa. Beliau berperawakan tinggi besar, berambut putih (beruban) dan berjenggot putih lebat. Beliau berwajah tampan dan kulit beliau putih bersih dengan mata jernih kebiru-biruan. Beliau suka sekali memakai baju putih dan beliau selali memakai pakaian yang bersih.

Pada usia belasan tahun Al Imam Malik mulai menuntut ilmu. Ketika berumur 21 tahun beliau mulai mengajar dan berfatwa. Beliau berguru pada ulama terkenal di antaranya Nafi’, Sa’id Al Maqburi, Amir bin Abdullah bin Zubair, Ibnu Al Mukandir, Az Zuhri, Abdullah bin Dinaar, dan sederet ulama-ulama besar lainnya. 

Murid-murid Al Imam Malik banyak sekali. Di antara mereka yang sangat terkenal adalah Ishaq bin Abadullah bin Abu Thalhah, Ayyub bin Abu Tamimah As Sakhtiyani, Ayyub bin Habiib Al Juhani, Ibrahim bin ‘Uqbah, Isma’il bin Abi Hakim, Ismail Ibnu Muhammad bin Sa’ad, dan Al Imam Asy Syafi’i.
Sahabat-sahabat Al Imam Malik diantaranya adalah Ma’mar, Ibnu Juraij, Abu Hanifah, ‘Amr bin Al Harits, Al Auza’i, Syu’bah, Ats Tsauri, Juwairiyyah bin Asma’, Al Laits, Hammad bin Zaid.

Al Imam Malik mempunyai karya yang besar di bidang hadits, yaitu kitab Al Muwattha, karya beliau lainnya adalah Risalah fi Al Qadar, Risalah fi Al Aqdhiyyah, dan satu juz tentang tafsir. Di samping karya-karya beliau lainnya yang tidak disebutkan di sini.
Pujian-pujian yang datang dari para ulama kepada Al Imam Malik membuktikan tingginya reputasi beliau dalam bidang keilmuan, tidak kurang dari murid beliau, Al Imam Asy Syafi’i yang mengatakan, "Ilmu itu berputar-putar di sekitar tiga orang, Malik, Laits, dan Ibnu ‘Uyainah".

Al Imam Ahmad bin Hanbal menuturkan bahwa Imam Malik ditinjau dari sisi ilmu lebih utama dari Al Auza’i, Ats Tsauri, Al Laits, Hammad, dan Al Hakam.
Al Qaththan berkata, "Beliau (Al Imam Malik) adalah imam yang patut dijadikan panutan".

Al Imam Malik adalah seorang tokoh yang gigih menyebarkan dan mempertahankan aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Pendapat-pendapat beliau tentang Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah tercermin dari ucapan-ucapan beliau diantaranya:

1. Beliau berkata, "Iman itu ucapan dan perbuatan (maksudnya: iman itu keyakinan di dalam hati yang disertai dengan ucapan lisan dan perbuatan anggota badan, pent), bisa bertambah dan berkurang dan sebagiannya lebih utama dari sebagian yang lain."
2. Beliau berkata, "Al Qur’an itu KALAMULLAH (firman Allah). Kalamullah itu berasal dari Allah Subhanahu Wata’ala. Dan apa yang berasal dari Allah Subhanahu Wata’ala itu sekali-kali bukan makhluk".
3. Beliau berkata, "Siapa yang mengatakan bahwa Al Qur’an itu makhluk, maka dia harus dicambuk dan dipenjara".
4. Beliau berpendapat bahwa orang-orang yang beriman akan dapat melihat Allah Subhanahu Wata’ala pada hari kiamat dengan mata kepala mereka.
Berkenaan dengan akhlak yang harus dimiliki oleh penuntut ilmu Al Imam Malik mengatakan, "Hendaknya seorang penuntut ilmu itu memiliki sifat teguh hati (tabah), tenang pembawaannya (berwibawa), dan Khasyyah (takut kepada Allah Subhanahu Wata’ala)".
Beliau sendiri dikenal sebagai orang yang sangat takwa kepada Allah Subhanahu Wata’ala, berwibawa, dan sangat disegani sebagaimana dikatakan Mushab bin Abdullah dalam syairnya,
Jika Beliau tidak menjawab pertanyaan
pertanyaan tidak diajukan lagi
karena orang segan
itu disebabkan kewibawaan dan
cahaya ketakwaannya 
Beliau disegani orang kendati bukan penguasa. Al Imam Malik wafat pada tahun 179 H. Jenazah beliau dimakamkan di pemakaman Baqi’. Semoga Allah mencurahkan rahmat-Nya kepada Imam Malik.
Sumber bacaan:
Kitab Siyar A’lam An Nubalaa
Karya Al Imam Adz Dzahabi 
Sumber: Majalah As Salam
No. V/Tahun II-2006 M/1427 H
Halaman 53-54 
auto insurance, auto insurance quotes, auto insurance companies, auto insurance florida, auto insurance quotes online, auto insurance america, auto insurance comparison, auto insurance reviews, auto insurance calculator, auto insurance score, auto insurance quotes, auto insurance companies, auto insurance florida, auto insurance quotes online, auto insurance america, auto insurance comparison, auto insurance reviews, auto insurance calculator, auto insurance score, auto insurance ratings

Follow us on Facebook :P

Blogger news